Diberdayakan oleh Blogger.
  • Home
  • About Me
  • Thought
    • Self-Talk
    • Journal
  • Contact

Just Another Side of Me

kadang saya bingung harus mulai menuliskan ini dari mana, maklum sejujurnya saya nggak pandai menulis; saya cuma orang yang cukup suka menulis. tapi kali ini saya berniat untuk menuliskan sesuatu tentang pertambahan angka dalam usia dan semakin berkurangnya waktu saya di dunia, serta menuliskan keinginan-keinginan yang perlahan-lahan coba saya wujudkan.



(Source: Pinterest)


per tanggal 5 bulan kemarin saya resmi bertambah usia. dua puluh lima tahun. saya resmi berusia se-per-empat abad. alhamdulillah. tahun kemarin saya bertambah usia tepat di hari raya idul fitri, sedangkan tahun ini nggak~ jujur, setiap ulang tahun saya nggak pernah mengharap apa-apa selain dikasih kesehatan & rezeki untuk ke depannya, saya juga cuma berharap hari itu akan berjalan lancar dan baik-baik saja. tapi nggak munafik juga kalau sejujur-jujurnya saya ingin merasa istimewa bagi orang-orang yang saya sayangi. siapapun itu. tapi saya juga cukup sadar diri kalau diri ini nggak begitu istimewa, poros dunia bukan hanya berputar untuk saya seorang. jadi intinya, saya selalu ingin memaknai diri saya dengan sebaik-baiknya, saya selalu ingin merasa istimewa paling tidak untuk diri sendiri, saya selalu ingin berpikir bahwa satu-satunya orang yang akan mencintai saya adalah diri saya sendiri.


hari itu berjalan biasa saja. saya masih harus pergi ke kantor dan mengerjakan beberapa pekerjaan kemudian pulang menjelang sore dan menghabiskan waktu untuk tetap #dirumahaja selama pandemi belum berakhir. tak ada lilin atau kue manis.


namun hari itu saya menyadari apa yang benar-benar saya inginkan; mandiri dan mapan secara finansial. hal itu kadang terdengar seperti mimpi. apakah saya bisa?


semenjak pandemi corona virus disease (covid-19), saya lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah. ketika awal kemunculannya, saya sempat merasa cukup stres karena harus benar-benar nggak keluar rumah. terlebih ketika itu, ketakutan dan ketidaktahuan akan virus ini masih besar. mall, bioskop, rumah makan, pusat perbelanjaan, hampir semua industri tersebut tutup. kalaupun buka, jam bukanya sangat dibatasi. sehingga ketika itu benar-benar tidak ada yang bisa saya lakukan selain #dirumahaja dengan kegiatan nonton series/film dan mengerjakan beberapa pekerjaan rumah. rutinitas makan di luar rumah dan jajan jajan yang nggak perlu berkurang cukup drastis. alhasil uang terasa tetap utuh. alhamdulillah kantor saya masih menggaji pegawainya full, nggak pake acara potong-memotong gaji walau waktunya kadang telat. tapi saya disini bersyukur banget. alhamdulillah kondisi keuangan saya masih baik-baik saja meski masih ada beberapa pengeluaran, terlebih menjelang hari raya kemarin. alhamdulillah saya pun memiliki dana darurat yang nggak terlalu besar tapi masih mencukupi untuk hidup paling nggak satu bulan ketika nggak ada penghasilan sama sekali. sementara di luar sana, banyak banget masyarakat yang terkena dampak covid-19 ini. sedih? banget. ikutan sedih karena penderitaan mereka yang kurang beruntung, yang terkena dampak langsung. sedih banget dan akhirnya saya berinisiatif sedikit membantu mereka dengan cara saya sendiri.


semakin ke sini saya jadi sadar kalau dana darurat itu sangat penting, kita nggak tau bakal ada apa di kemudian hari, kita nggak tau kehidupan kita nanti bagaimana ketika sesuatu yang buruk terjadi dan mengancam finansial kita untuk bertahan hidup. lalu saya jadi sadar, pentingnya kita mandiri secara finansial. sebuah instagram story dari @jonathanend yang membahas masalah finansial ini membuat saya makin ‘melek’ finansial. serius deh. kadang saya merasa tertampar sama kata-katanya, tapi apa yang ia katakan ya benar adanya. selain dana darurat (dana yang bisa kita gunakan ketika kita sementara tidak bisa berpenghasilan, bisa karena sakit mendadak, di PHK dari kantor, kebutuhan mendesak lain dll), kita perlu juga untuk memiliki asuransi kesehatan alias askes untuk paling nggak ya diri sendiri. intinya, pembahasan yang diangkat oleh bang joni ini sangat amat penting dan real. saya jadi punya banyak insight baru.


dan tanpa saya sadari, saya punya keinginan untuk bisa mandiri dan mapan secara finansial.


selama masa #dirumahaja ini saya jadi banyak banget dapat insight baru dan beberapa pembelajaran penting. terlebih masalah bersyukur dan finansial yang harus saya up grade kualitasnya. terlebih usia nggak lagi muda, apalagi abege. buat saya usia dua puluh lima bukan lagi soal foya foya karena masih muda. usia dua puluh lima adalah usia yang seharusnya sudah menyiapkan segala keperluan hidup terutama keuangan dengan baik dan mengaturnya. sebaik-baiknya. saya jadi merasa malu sama diri sendiri karena masih belum bisa mengatur keuangan kurang baik~


usia dua puluh lima : saya ingin mandiri dan mapan secara finansial yang lebih baik lagi. 



selamat ulang tahun~ 
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
(Source: Pinterest)


selama ini tanpa saya sadari, saya merasa nyaman berada di ‘balik layar’. bisa kalian katakan kalau saya berada di zona nyaman. mereka bilang saya perlu keluar dari zona nyaman untuk merasakan hal-hal baru yang berbeda yang mungkin saja saya suka. saya cuma tersenyum. menurut saya sih bukan keluar dari zona nyaman, tapi memperluas zona nyaman ke zona-zona lain. tapi intinya mungkin sama aja.


beberapa waktu lalu saya mencoba untuk berani memperluas zona nyaman, mencoba hal-hal baru yang belum pernah sama sekali saya coba yang menuntut saya untuk tampil di ‘depan layar’. hampir sebulan saya berusaha untuk melawan debar jantung yang semakin kencang dan mendadak burn out ketika berjalan menuju zona baru itu hampir setiap hari. dan bagaimana rasanya? i wasn't that bad, i guess. ketika sudah berada di zona baru itu, yang saya pikirin cuma bagaimana caranya supaya fit in, supaya saya bisa enjoy sama atmosfernya. dan setiap kali saya sudah merasa enjoy dengan atmosfernya dan sedikit demi sedikit memahami beberapa hal, tiba-tiba i got lost and feeling unwanted. suatu hari saya terbangun dan tak berniat untuk kembali ke sana. teringat bagaimana debar jantung dan burn out yang sangat menyiksa apabila terus dipaksakan.


pelan-pelan akhirnya saya step backwards, mundur perlahan-lahan. dan sampai dengan detik ini masih nggak berniat untuk kembali ke sana. tapi saya nggak menyesal. justru saya merasa lega, bahwa saya udah membuktikan ke diri sendiri dan cukup bangga sama diri sendiri karena berani mencoba dan melakukan yang terbaik, bilapun gagal setidaknya saya udah mencoba. 


dan pada akhirnya saya tahu dan paham sesuatu tentang diri sendiri; saya nggak merasa nyaman berada di ‘depan layar’, saya nggak bisa memaksakan sesuatu bila merasa nggak nyaman, dan saya memilih menjadi orang yang sibuk berkarya di ‘balik layar’ untuk menampilkan banyak hal baik di ‘depan layar’. ibaratnya seperti sutradara dalam film, dia nggak terlihat dalam film tapi berkat dia film itu ada sebab dia mengatur semuanya dalam film, berpikir keras untuk menciptakan hal-hal baik untuk tampil di ‘depan layar’ kelak. 


saya ingin berkarya dan berdedikasi pada hal-hal yang mampu menghangatkan hati, menjadi support system untuk setiap orang yang membutuhkan. dan sesekali menampilkan wajah diri di depan layar dengan seulas senyum bahagia. ❤️
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
sudah sepekan pemerintah menghimbau masyarakat untuk bekerja, belajar, dan beribadah di rumah. di berbagai linimasa pun tagar #dirumahaja menjadi banyak digunakan untuk mendukung program tersebut. seperti yang kita tahu, sudah 2 pekan lebih ketika virus corona atau covid-19 ini di umumkan secara resmi ke publik oleh presiden joko widodo. secara langsung, pemerintah pusat menghimbau kepada pemerintah daerah untuk ikut bergerak menerapkan bekerja, belajar, dan beribadah di rumah demi mencegah penyebaran virus yang terlalu masif di masyarakat. area sekolah, area perkantoran, dan tempat hiburan mendadak hampir sepi bak tak berpenghuni. sekolah-sekolah dan berbagai kampus memutuskan untuk merumahkan pada siswanya untuk belajar dari rumah secara daring atau online, kantor-kantor yang memungkinkan untuk bekerja dirumah atau work from home (WFH) melakukan aktifitas serupa; merumahkan pada pekerja untuk bekerja dari rumah, dan berbagai tempat ibadah pun cukup sepi mengingat himbauan untuk beribadah di rumah terlebih pada tempat-tempat atau lokasi yang telah memiliki kasus positif.





tapi, saya disini bukan untuk berbicara seputar virus yang sedang mewabah saat ini, bukan juga untuk berbicara mengenai tata cara pencegahan penularan virus. saya disini ingin berbicara mengenai sisi lain dari diterapkannya sistem work from home atau berbagai sistem berkaitan dengan dirumahkannya sementara siswa, mahasiswa, dan pekerja.


ketika pemerintah menghimbau untuk melakukan segala aktifitas di rumah, otomatis kita dilarang untuk berkegiatan di luar rumah (bila bukan untuk hal mendesak, seperti membeli bahan pangan dan lain-lain). otomatis, hampir semua masyarakat berada di dalam rumah. ya, rumah. 
beberapa dari kita merasa bahagia ketika diminta untuk bekerja dari rumah atau belajar dengan sistem online dari rumah sehingga kita tak perlu repot untuk pergi ke sana kemari dan melakukan berbagai persiapan untuk pergi ke luar. pernah sempat terpikirkah oleh kamu bahwa ada di luar sana orang-orang yang enggan berdiam diri di rumah bukan karena bosan, melainkan karena mereka menganggap bahwa rumah yang mereka tinggali bukanlah ‘rumah’ yang mereka harapkan? mereka yang merasa tidak nyaman dengan keadaan rumah mereka karena satu dan lain hal, entah karena keluarga yang kurang harmonis atau justru banyak hal yang membuat mereka bersedih atau bahkan menangis ketika terlalu lama berdiam diri dalam rumah? pernahkah kamu bayangkan betapa inginnya mereka keluar dari rumah dan mencari tempat lain untuk berdiam diri menenangkan dirinya? membuat nyaman dirinya sendiri? 


semalam saya membaca beberapa tweets di twitter tentang hal ini, seorang influencer bertanya bagaimana rasanya berdiam diri di rumah (melakukan self-quarantine atau work from home atau belajar online) ketika rumah tidak lagi memberikan rasa tentram, rasa nyaman, dan aman. banyak sekali diantara pengikutnya atau followers-nya berkomentar; berbagai komentar yang tentu membuat hati saya cukup sedih. banyak dari mereka mengalami hal-hal yang serupa dengan saya. banyak dari mereka mengalami pengalaman lebih pahit dan menyakitkan dalam rumahnya. 







bagaimana membacanya? itu adalah sedikit tweets yang saya baca yang sebenarnya masih lebih banyak dari itu. rasanya terenyuh dan ikutan sakit. have you ever imagine that? mempunyai keluarga dalam rumah namun sama sekali tak memberikan kenyamanan di hati justru hanya menggoreskan luka-luka baru dan mengorek luka lama? please, don't judge me. 


selama ini, saya pikir saya adalah satu-satunya orang sial yang memiliki nasib kurang beruntung tentang hal ini. tapi nyatanya, dunia di luar sana begitu luas dan yang saya butuhkan adalah melebarkan pandangan untuk melihat lebih dari yang biasanya. don't you think i am happy for their pain, no. justru saya merasa bersyukur bahwa di luar sana masih banyak pejuang yang berjuang mati-matian untuk bisa hidup nyaman dan tenang, banyak pejuang yang perjuangannya lebih menyakitkan daripada yang saya alami. dan seketika saya merasa malu untuk mengeluh. ya, saya sering mengeluh, sering menangis diam-diam, dan sering mengkhayal jikalau luka-luka ini tak pernah ada saya mungkin menjadi orang paling bahagia di dunia. tapi.. saya tahu, luka-luka ini mengajarkan banyak hal, sebagai pengingat bagaimana perjalanan hidup saya sejauh ini.


ah.. sudahlah. saya malu. malam ini saya kembali menangis. ingin berteriak tapi tak bisa. ingin banyak bercerita tapi tak akan ada satu orang yang benar-benar mengerti luka yang saya punya. saya selalu berakhir dengan air mata di mana-mana dan berbagai perasaan diabaikan, ditolak, dan dikhianati berkali-kali. dan ditinggalkan sendirian.


bagi sebagian orang, arti rumah bukan terletak pada suatu tempat melainkan terletak pada seseorang.
dan bagi sebagian lain, ‘rumah’ sebenarnya ketika mereka berada di luar rumah itu sendiri.


jadi, apa makna ‘rumah’ bagi kamu?













( nrlhdyn — 23/03/2020 08.54PM )
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
hi, peeps! how's your life? i don't want to talk about anything seriously right now because i've been too stressful lately because of something i couldn't tell. but here i am, going to tell you how my life is going for about first two months in 2020. it's almost the end of february so yeah please enjoy this post!


i'm going to take you back in november 2019 where i realized that i got fucking messed up; feeling so alone and lonely like no body wanted me, and feeling like i was all alone through everything ups and downs in my whole life. the point is, i was feeling unloved and unwanted. it happened 'till december 2019. two months i've been through that stupid thoughts in my head like an idiot. so, in january i realized that i couldn't be like this forever. i made some resolution for this new year, like doing sport regularly every weekend, writing my own journal and i made fun of it, and start looking for new activities or side job for extra money. but i almost forgot to write in this blog. LOL. please don't blame me! i want to get healthier for the sake of my body and my lungs, so i do sport every weekend with my boyfriend. i want to be more organize about my life, so i write a journal. that book of journal fills with my notes, example what i'd love to do, what i eat today, how's my mood today, my habit, my movie i've watched in 2020, my period tracker, and off course my diary! i write what i really feels and what's in my mind, just like diary i used to write in school. and adding another new activity (or new side job?) for extra money off course.


in the middle of january, i sent my application latter to two radios station in town for part-time announcer position. one of them called me at the end of january, they'd like to get to know me by interview. i came and i felt there was something wrong with this company, i just didn't know why. but i'd keep walking on their line. few days later, someone called me back (just call him, Mr. A) and told me that i was accepted on his company! i was so happy back then, and i started learning that position. that broadcasting thing was so new for me, i didn't have any experience of it before. so, Mr. A taught me one or two about that thing. i was a trainee 'till he decided that i should start on air-ing soon, and there was another announcer taught me so much more than Mr. A did. we became friends, even i didn't talk as much as he did. but something happened between all of that thing. my head got so dizzy and crazier, just like in november. i was so messed up. few days i pushed people away, except my boyfriend. even though i didn't tell him why and what i was feeling, after all the point is, i was so messed up my head and people around me. i couldn't walking on their line anymore. i just couldn't feel that happiness when i did that. off course i'd love talking a lot about so many things, and i have enough words to say but i just couldn't go back there. so i left them behind. 


it was so funny, isn't? one time you're really passionate about something and you want to do anything to fill your soul and make yourselves happier, and in the next time all you want to do is leaving them behind because it no longer satisfies you, no longer gives you what you're looking for. and i want to say sorry for leaving them behind. maybe it's all me and my dizzy head and my habit for pushing people away when i got 'sick'. 


but the first two months of 2020 aren't so bad at all. i got few happiness and peaceful mind (even it was just for awhile) and so many things i should grateful for for example i got almost-high score in CPNS test, alhamdulillah even though i don't know will i am going to the next test, the final test of CPNS. just wish me luck, okay? even i don't want to hang on to something called hope because when it turns wrong (as not what i wish for) i'm easily going stress. so, yeah, i don't want to expect anything but keep praying for what i really wanted. and there was spirit of my beloved friend, rina and rusdi. they're the best. i love them. and my boyfriend as also my partner for life, i want to thank them all genuinely from the bottom my heart.


and today i feel worried about my health. i got cough, and i'm scared of it becomes worse or something. i hope it's just another cough, an ordinary ones. this post is kinda like diary, isn't this? nice to meet you in this page, thank you for your time to read this post. see you!





( nrlhdyn — 26/02/2020 08:27AM )
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
(Source: Pinterest)




have you ever feel different from others?


setiap dari kita pasti memiliki keunikan tersendiri, memiliki ciri khas sendiri dan tentunya memiliki caranya sendiri untuk mereaksikan suatu hal yang terjadi dalam hidupnya. dimulai dari berbeda selera musik, berbeda makanan favorit, hingga berbeda cara dalam memandang kehidupan dan menentukan tujuan hidup ke depannya. setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk menjadi berbeda.


akhir-akhir ini saya sedang merasa menjadi berbeda dari orang lain di sekitar saya. saya menjadi merasa asing. menjadi berbeda di situasi atau keadaan tertentu kadang membuat saya merasa sedih, sekaligus bodoh. terkadang saya tak ingin menjadi berbeda. but i can't deny, i can't be someone else. so i decided to stay true to myself. saya tahu, perbedaan yang saya miliki kadangkala menjadi pemicu terjadinya konflik. seperti yang sedang saya alami saat ini. for the past few weeks, i feel different. saya baru menyadari seutuhnya bahwa saya berbeda dengan lingkungan yang ada di sekitar, sebut saja keluarga. ya, saya baru menyadari bahwa banyak hal dalam diri ini yang bertolak belakang dengan pandangan hidup keluarga. terkejut? tentu saja. saya pun merasa aneh. terkadang tak ada satu pun dari mereka yang memiliki kesamaan pendapat atau kesamaan pandangan tentang satu hal dengan saya. am i wrong? i don't know. i just feel different somehow. apakah perbedaan yang saya alami ini adalah suatu kesalahan? suatu keanehan? saya rasa ini bukan suatu kesalahan, pun keanehan. it's just me try to being me genuinely. perbedaan akan terasa menyenangkan dan menenangkan apabila sama-sama dipahami oleh kedua belah pihak, bukan? bagaimana kalau tidak?


i feel like i am the outsider from somewhere in this world.


kadangkala perbedaan yang saya punya dengan orang lain membuat saya menjadi seperti orang asing bagi setiap orang yang saya temui, bagi orang terdekat. terlebih ketika mereka sudah tahu bahwa saya cukup berbeda dan tak bisa menerimanya. hehe. iya, saat ini saya sedang berbicara mengenai penerimaan terhadap perbedaan. betapa bodohnya saya yang baru menyadari bahwa perbedaan-perbedaan yang ada pada diri saya tak mudah (atau mungkin tidak bisa) diterima oleh orang-orang sekitar (keluarga). i'm not going to tell you the details, i don't wanna feel 'baper' or something. betapa sedihnya saya ketika perbedaan yang saya punya tak dapat diterima oleh mereka. i am desperate and don't know what to do. all i wanted is just to be wanted, to be accepted for who truly i am, but they can't. saya belum paham kenapa di dunia ini ada orang-orang yang tak dapat memahami suatu perbedaan, kenapa di dunia ini ada orang-orang yang menutup kepala mereka untuk sesuatu yang berbeda? apakah mereka punya ketakutan tersendiri? entahlah. bagaimana rasanya hatimu bila orang-orang yang kamu sayangi tak dapat menerima perbedaan yang ada dalam dirimu? bagaimana rasanya hatimu bila orang-orang yang kamu sayangi memaksamu untuk menjadi seperti yang mereka mau kemudian menyingkirkan perbedaan yang kamu punya? mereka menolakmu?


i can't deny that sometimes i feel terrible about myself for being this fucking different from others. saya telah banyak merasakan penolakan-penolakan, namun penolakan yang satu ini, penolakan yang tak dapat diteloransi membuat saya cukup putus asa. seseorang berkata bahwa saya harus belajar untuk tidak peduli pada apa yang mereka katakan, setiap orang memiliki tujuan yang berbeda dalam hidup, belajar untuk membatasi diri dari mereka yang tak mampu menerima seutuhnya diri. and yes, i learn. and i'll become cold-hearted. menjadi manusia yang berhati dingin sebenarnya bukan menjadi pilihan saya, i feel like i'm cruel but i have no choices. this is the way i left them behind; become a cold-hearted at its best. and sometimes i don't know how to go back to normal again.


hehehe. tulisan ini lebih mirip seperti curahan hati dibanding tulisan-tulisan saya sebelumnya. saya hanya tak tahu harus bagaimana lagi. ini lebih mirip tulisan tentang keputusasaan yang terpapar jelas dari cara saya menulis/mengungkapkannya.


this is my life, i'm going to live by my own rule. 


saya rindu pada ruang yang dulu saya punya. sebuah ruang untuk jeda dari permasalahan yang diwariskan oleh keluarga. i miss that moment when i could live the life by my own. i miss being an independent. i miss being live in the house/room just by myself. saya rindu pada ruang, jarak, dan jeda yang mempu membahagiakan saya dahulu. dan saat ini saya hampir tidak tahu lagi bagaimana membuat diri saya kembali bahagia selain ketergantungan pada seseorang. i can't find my way.


sebuah isak tangis yang telah berganti menjadi keheningan panjang


saya tak lagi merasa harus menangis tiap kali merasakan penolakan tajam. saya tak lagi merasa harus berbicara pada seseorang tiap kali merasakan hati yang perlahan-lahan patah. setiap tangisan yang beberapa hari lalu menjadi sebuah ungkapan, kini berganti menjadi keheningan panjang. dingin. seolah menutup semua pintu kemungkinan untuk kembali berdamai dengan penolakan. jujur saja, saya lelah. saya pikir saya sudah cukup dewasa dan mengerti untuk menjalani hidup saya sendiri sesuai dengan pilihan-pilihan saya. saya lelah terus menerus menjadi boneka yang digerakan oleh seseorang, saya lelah terus menerus berusaha membahagiakan orang-orang yang jelas-jelas tak berpikir akan kebahagiaan saya. keheningan panjang mungkin adalah salah satu cara saya untuk menggantikan konflik yang lebih besar yang mungkin saja terjadi. saya lelah menangis setiap malam sebagai ekspresi rasa kecewa dan patah hati saya yang terdalam, dan tak ada seorang pun yang tahu tentang itu.


untuk kamu yang sering merasa berbeda dari yang lain, that's okay, that's normal. tak seharusnya kita menyembunyikan atau bahkan malu akan perbedaan itu. just show it. show that you're good hearted person within your differences. kamu tidak sendiri. kamu bersama orang-orang yang unik dan berani menjadi diri sendiri, berani menjadi berbeda. 


untuk kamu yang belum bisa memahami pun mentoleransi perbedaan yang ada pada diri orang lain denganmu, semoga kelak kamu mengerti bahwa perbedaan bukanlah hal yang buruk. perbedaan mampu membuatmu lebih dekat. perbedaan mampu menciptakan hal baru. saya tahu bahwa sulit untuk menerima perbedaan, namun hey, mereka yang berbeda pun memiliki perasaan sama sepertimu. hargai setiap perbedaannya. bicarakan perbedaannya hingga menemukan titik temu yang seharusnya bisa menjadi pemersatu kamu dengan mereka yang berbeda. sebab penolakan adalah hal yang benar-benar bisa membuat sebuah hati patah atau bahkan remuk berkeping-keping. 


be proud of being you, even when you're completely different from the others. stay true to yourself. keep being kind and being you. you are different and different is beautiful. 










( nrlhdyn — 01/12/2019, 04:58 PM )
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
(Source: Pinterest)



i am not okay, is that okay?


banyak perasaan-perasaan yang mengganggu ketika sedang tidak baik-baik saja. sebagai orang yang terbiasa berpura-pura kuat dan baik-baik saja, tentu bukan hal yang mudah bagi saya untuk menerima perasaan yang sedang tidak baik-baik saja. loh? gimana? let me tell you something. terkadang, kita sulit untuk mengaku bahwa kita sedang tidak baik-baik saja. saya memang bukan orang yang mudah menerima dan mengakui bahwa saya sedang tidak baik-baik saja. oleh karenanya saya sering berpura-pura baik-baik saja, bersikap seperti tak ada hal yang mengganggu, baik mengganggu pikiran maupun hati. saya tekan ke dalam dasar hati saya, oh bahkan saya kubur perasaan tidak baik-baik saja itu. and at the end of the day, saya merasa palsu. saya merasa telah memalsukan keadaan dan perasaan saya yang sebenarnya hingga hal perasaan tersebut justru menggerogoti saya dari dalam dan semua kepalsuan tersebut berakhir dengan tangisan tiada henti dan sesak dalam dada di malam hari ketika hendak pergi tidur. 


and i was so stupid


saya bukan mau menulis kiat-kiat positif atau tulisan motivasi untuk menerima diri, sebab dalam penerapannya di diri sendiri, saya masih menemukan kesulitan. sulit untuk menerima diri yang sedang bersedih. sulit untuk mengelola perasaan sedih menjadi hal yang positif. sulit untuk mengelola berbagai perasaan tersebut dengan baik. all i'm trying to say is, saya tahu masih banyak di luar sana yang sulit menerima diri, yang sulit untuk berdamai dalam perang batin yang sering bergemuruh dalam dada, and that's okay to be not okay. setiap hari ketika perasaan-perasaan tersebut menangkap saya dalam kegelisahan, saya selalu coba untuk bicara pada diri sendiri. iya, bicara sendiri adalah hal yang sering saya lakukan. berbicara pada diri bahwa "it's okay to be not okay", sampai-sampai saya buat tulisan di secarik kertas dan menuliskan kalimat tersebut dan tertempel di cermin kamar sebagai reminder atau pengingat diri bahwa perasaan tak baik-baik saja pun tidak apa-apa, bahwa saya akan baik-baik saja pada akhirnya bila mau menerima perasaan sedih ini. 


lalu, bagaimana caranya untuk menerima perasaan tidak baik-baik saja?


ya, jujur saja saya pun masih belum tahu bagaimana persis caranya saya menangani perasaan tidak baik-baik saja. saya tidak tahu persis bagaimana caranya untuk mengelola perasaan-perasaan tersebut. tapi satu hal yang saya ingat ketika perasaan-perasaan tersebut mulai mengganggu adalah, pada akhirnya saya akan bisa menerima walau berat walau banyak rintangan walau sulit untuk dijalani tapi saya tahu saya bisa. saya sudah sejauh ini berjalan dalam begitu banyak ragam kesedihan, dan saya masih bertahan, masih mampu berdiri di atas kaki sendiri, masih mampu untuk terus bergerak mengikuti berputarnya bumi ini. saya pasti masih sering menangis; malam hari ketika akan tidur, ketika sedang mandi dan atau berada di kamar mandi, dan ketika sendiri. semata-mata hanya untuk meluapkan emosi yang sudah terlanjur bergejolak dalam dada. sebab tak selamanya saya bisa menolak perasaan-perasaan ini. i choose to deal with it, slowly with tears around my eyes. and that's okay. sebab, kalau bukan saya yang menerima perasaan-perasaan ini, lalu siapa?


i can't stay positive all the time. itu sebabnya saya tidak mau memaksakan diri untuk selalu merasakan hal-hal positif, kadangkala memaksakan untuk merasakan hal positif dapat menyebabkan diri menjadi sebenar-benarnya negatif. i don't wanna lie to myself. hehe.


it's okay to be not okay. 


kalau kamu mau menangis, menangislah. luapkan kesedihanmu. habiskan air mata yang ada dalam matamu hingga lelah. setelahnya, jangan lupa untuk bangkit lagi. jangan lupa untuk bersyukur lagi. air matamu menandakan bahwa kamu memiliki hati yang baik yang kebetulan sedang terluka. jangan lupa untuk menjadi kuat lagi setelahnya, sebab kita membutuhkan pikiran yang waras untuk kembali bergerak seirama dengan bumi yang berputar, kita membutuhkan pikiran yang waras untuk kembali melanjutkan hidup tak peduli seberapa berat dan berliku rintangan yang ada di depan sana. kalau kamu sudah bisa bangkit lagi, jangan lupa bersyukur pada Tuhan dan kamu boleh berbangga dengan diri sendiri. lihatlah dirimu di cermin, lihatlah matamu yang telah melihat banyak hal di dunia ini, lihatlah matamu yang telah menjadi saksi indahnya bahagia dan dukanya kesedihan. mungkin itu semua membutuhkan waktu yang tidak sebentar, dan itu tak apa. kadangkala kita harus menikmati kesedihan untuk belajar bangkit dan kuat lagi. look how strong you are. look how far you've come this far. it is amazing. you are amazing. we are amazing.











( nrlhdyn — 01/12/2019, 03:05 PM )
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
hai.


hari ini tanggal 2 november 2019. udah sebulan lebih saya ngga nulis apa-apa di sini. hehe. sebulan terakhir entah kenapa lagi ngerasa mandeg buat menulis. ide sih ada, bertebaran malah. beberapa ide yang muncul entah sehabis nonton film atau habis ngeliat suatu kejadian atau sedang merasakan sesuatu, semua ide itu kayak perlahan-lahan hilang seiring waktu. jangankan untuk nulis di blog ini, untuk bikin caption di instagram juga ngga jarang kepala ini suka mandeg. kenapa ya? apa karena kurang baca buku? yaaa memang sih saya akuin, udah beberapa bulan ini ngga baca buku. jadi mau menulis juga rasanya mandeg, writers block terus setiap hari.


tulisan kali ini saya cuma mau nulis-nulis ngga jelas aja hahaha anggap aja ini pemanasan buat saya bikin tulisan selanjutnya. jadi, saya udah nge-list alias udah bikin daftar apa saja yang bakal saya tulisin di sini. ide-ide yang kemarin-kemarin sempat bertebaran dalam kepala, udah rapih saya tuliskan di notes ponsel. yaa semoga aja sih nanti ngga mandeg lagi. dan saya jadi kepikiran buat baca buku lagi, deh. ada rekomendasi ngga? kalo bisa sih ebook aja, bukannya ngga suka buku fisik tapi akan lebih praktis kalo saya pegangnya ebook hahaha ngga berat cukup di ponsel.


and yeahh.. i'm gonna do some update.
sebulan terakhir ini sebenernya ngga terlalu sibuk-sibuk amat, waktu luang normal lah ya seperti biasa. tapi lagi ga jarang ngerasa jenuh sama rutinitas. kayak rutinitas kerja, masalah di rumah, kekisruhan keluarga. yaa gitu deh. banyak banget yang lagi kumpul dalam kepala ini. tapi ada beberapa hal yang aku syukurin, pertama karena hubungan saya dengan pacar sedang baik-baik saja. malah yang kami rasa titik terang, agaknya sudah mulai terlihat. hahaha. nanti deh cerita yang itu. lalu, kesehatan saya yang alhamdulillah sudah lebih dari satu bulan lepas dari obat dan kondisi badan tetep fit. senangnyaaaa...


gitu aja deh. mau tidur dulu. ciao!
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
bulan agustus tahun 2019 adalah bulan agustus ke-74 kemerdekaan indonesia. dimana-mana hampir di setiap kampung/instansi/kantor pasti mengadakan acara yang disebut “tujuhbelasan”. biasanya akan ada berbagai perlombaan, dari mulai lomba makan kerupuk, balon dangdut, tarik tambang, hingga panjat pinang. hehe. pokoknya indonesia banget. acara “tujuhbelasan” ini disimbolkan sebagai acara pemersatu bangsa indonesia, sekaligus belajar bahwa segala sesuatu butuh perjuangan dalam prosesnya dan mungkin nggak mudah. butuh fokus dan konsistensi untuk meraih segala sesuatunya. mungkin kira-kira begitu sih makna acara “tujuhbelasan” tersebut. bulan agustus setiap tahun selalu dirayakan meriah dan suka cita oleh rakyat indonesia. mereka akan meneriakan “MERDEKA! MERDEKA! MERDEKA!” dengan lantang dan penuh semangat. 





merdeka.


banyak yang meneriakan kata tersebut tanpa benar-benar meresapi arti dan maknanya. merdeka, ya, kawan? kadang saya sangat bahagia dan bangga ketika lagu kebangsaan dikumandangkan mengiringi prosesi penaikan bendera. rasanya khidmat. rasanya lagu kebangsaan indonesia benar-benar sebuah doa untuk bangsa indonesia. coba sesekali dengarkan lagu kebangsaan indonesia versi lengkap (3 stansa). sang pencipta lagunya benar-benar memiliki pengharapan besar pada negaranya di masa mendatang. tapi, coba kita sesekali renungkan, apakah bangsa indonesia kini sudah berhasil menjadi apa yang di inginkan oleh sang pencipta lagu kebangsaan tersebut? apakah semua rakyat indonesia kini memiliki hidup yang layak dan sejahtera? no.


medeka.


merdeka bisa diartikan apa saja. merdeka artinya terbebas dan perasaan lega setelahnya. para pendahulu bangsa memperjuangkan kemerdekaan, mereka memberontak melawan para penjajah yang berlaku tidak adil dan semena-mena. mereka ingin memiliki kebebasan bernegara, kebebasan untuk tak lagi terbelenggu dalam bayang-bayang kekerasan penjajah. 


itu dulu.


di hari jadinya yang ke-74, menurut saya indonesia masih belum benar-benar merdeka. banyak yang meneriakan “merdeka” tapi sesungguhnya mereka masih terbelenggu ketidakadilan di negeri ini. hanya saja yang berperan sebagai penjajah bukan lagi orang eropa atau portugis pun orang jepang, melainkan adalah orang indonesia. menurut saya, kita masih dijajah oleh bangsa sendiri dengan ketidakadilan. saya nggak mau bilang bahwa pemerintahan sekarang gagal atau malah makin menyengsarakan rakyat (bukan itu juga intinya), tapi ketika berurusan dengan keadilan dengan rakyat jelata terkadang para pemimpin belum layak disebut pemimpin dalam artian yang sebenarnya.


kita kini masih hidup dimana harta dan tahta adalah tolak ukur kesuksesan seseorang. pejabat/petinggi berlomba-lomba menaiki tahta dan mengunduh harta dengan segala cara; hanya untuk menunjukkan betapa sukses dan sejahteranya hidup mereka, tak peduli harus menginjak rakyat jelata.
saya, masih belum merdeka dari hak-hak saya yang sering terampas. saya, masih belum merdeka dari suara-suara yang terpaksa saya tahan ketika ketidakadilan merajalela di sekitar saya. saya, masih belum merdeka dari budaya patriarki yang mengesampingkan perempuan, yang masih menganggap perempuan sebagai sebuah objek dan rendah di masyarakat, yang menganggap bahwa perempuan adalah makhluk lemah tak berdaya. saya, masih belum merdeka dari para pendusta yang mengumbar janji di atas mimbar. saya, masih belum merdeka untuk mendapatkan hal yang saya pantas dapatkan dari hasil kerja keringat sendiri. 


saya, kamu, juga mereka, masih harus bungkam atas ketidakadilan dari para pencari harta dan tahta.
saya, kamu, juga mereka, masih harus bungkam atas setiap kekerasan yang dilakukan para pencari nafsu dunia.
saya, kamu, juga mereka, masih harus bungkam untuk menjaga keselamatan diri dan keluarga dari para penjahat berseragam.


74 tahun indonesia merdeka, semoga tak lagi dijajah bangsa sendiri. :)
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Di usia yang kini genap 24 tahun, saya masih merasa gampang terpancing emosi. Yaa sebenarnya sih wajar-wajar aja di semua jenjang usia. Namun yang cukup mengherankan adalah saya sampai dengan detik ini masih gampang terpancing emosi yang berkaitan dengan keluarga, padahal saya sudah melalui ujian keluarga ini hampir 10 tahun. Belum genap 10 tahun sih but let's say so! Intinya sampai dengan detik ini saya masih suka ke-trigger sama hal-hal yang berbau keluarga. As you have known, my parents got divorce when i was 15. It was so terrible thing. Saya masih ingat ketika saya sering diam-diam menangis sebelum tidur, memikirkan betapa mengerikannya situasi keluarga saya pada saat itu. Setiap hari saya berpura-pura biasa seakan tak pernah terjadi kesedihan-kesedihan di rumah, semua itu saya lakukan agar ibu tetap tegar sebab saya tahu i had to be strong for myself. Dan sampai dengan sejauh ini, saya sudah bisa melanjutkan hidup dan move on dari ujian tersebut. And then, why is that family thingy always caught me in cry and so lost?




***
(Source: Pinterest)



Ke-trigger masuk sampe hati gitu. Saya juga masih nggak tahu dan nggak paham. Kadang saya mikir, mungkin saya masih belum bener-bener bisa mengikhlaskan tragedi keluarga yang saya alami, mungkin saya masih belum bener-bener menerima kekurangan yang ada di diri saya juga keluarga. Nggak tahu, nggak paham.


Hingga pada suatu titik dimana saat saya merasa gelisah dan sedih berlarut-larut, saya mulai berpikir untuk...... mengakhiri hidup. Suicidal thoughts. Nggak sekali atau dua kali saya berpikir demikian. Sering kali. Hampir setiap kali mengalami trigger karena keluarga. Kaget? Sama. Saya juga baru ngeh baru sadar setelah emosi saya mereda. Wait a sec! Saya ngga niat bunuh diri beneran macem menyat pergelangan tangan dengan pisau atau benda tajam lain yang bisa melukai, atau macem gantung diri di kamar mandi, atau menabrakan diri ke kereta api yang berjalan di rel. Nggak, saya nggak punya pikiran begitu. I'm just gonna let myself die with its own way. Karena saya punya 'sesuatu' dalam badan saya, i guess i'll use it. Please, jangan berpikir yang nggak-nggak tentang saya. Itu hanyalah sekelebat pikiran yang kadang terlintas di kepala ketika saya udah kelewat sedih kelewat terpuruk. Ngeri? Sama, saya juga ngerasa ngeri sendiri. Cukup merasa takut dengan kenyataan bahwa saya punya pikiran kayak gitu setiap kali gelisah dan ngerasa sedih.


Kalau sedang sedih, gelisah, merasa sendirian, merasa nggak dibutuhkan, nggak disayang, nggak dipeduliin, nggak dihargain, nggak didengarkan, dan nggak-nggak lain yang negatif, saya cuma bisa nangis. Ingin menyalahkan keadaan tapi saya sadar betul kalau saya nggak punya kuasa apa-apa buat memutar waktu dan mengulang semuanya untuk mencegah apapun itu. Hingga berakhir menyalahkan diri sendiri. Kadang tak cukup sampai disitu, saya sering merasa harus menyelamatkan diri saya dari apa yang membuat saya sedih dan nggak bahagia. Kabur alias lari sejauh mungkin dari kenyataan dari situasi, meninggalkan semuanya dan ingin memulai hidup baru. Sebab dengan melarikan diri dari sini dari hal-hal yang nggak membuat saya bahagia adalah salah satu cara untuk menyelamatkan diri. Entah karena saya terlalu egois, atau saya nggak bertanggung jawab hingga lari dari kenyataan, atau memang saya berhak menyayangi diri saya sendiri seutuhnya bagaimanapun caranya. Saya nggak tahu. Saya juga nggak jarang malas pulang ke rumah just because i don't feel safe, i don't feel belong there, i don't feel that comfort. Sering kali merasa nggak nyaman di rumah sendiri, atau mungkin lebih tepatnya karena penghuni rumahnya. Entahlah..


Saya juga kerap kali nggak hadir dalam acara keluarga besar. Saya merasa nggak nyaman dan sangat skeptis akan mereka. Merasa nggak seharusnya sama berada di tengah-tengah mereka, merasa nggak nyaman, merasa nggak penting. Saya lebih suka menyendiri dalam kamar, berdiam diri disana hingga acara keluarga selesai dan semua pulang, atau didapur menjadi tukang masak sekaligus dish washer untuk mereka semua (keluarga). Alhasil saya dianggap manusia yang anti-sosial, tertutup dalam keluarga, manusia yang memiliki kehidupannya sendiri yang nggak ingin seseorang pun masuk ke dalamnya, judes/jutek sampe ke akar-akarnya. Intinya, saya nggak suka perkumpulan keluarga. Sebab terkadang saya merasa mereka nggak benar-benar peduli, untuk apa saya repot-repot berada di sekitar mereka hingga dilempar pertanyaan-pertanyaan yang nggak jarang menyinggung hati. For your information, saya nggak suka basa basi busuk.


Setelah saya menyadari kebiasaan-kebiasaan berbahaya yang saya punya seperti 'suicidal thoughts' dan menghindari keluarga sendiri, saya sempat berpikir “apakah ini saatnya saya butuh bantuan profesional?”. Jujur saja, saya terlalu takut untuk datang dan berkonsultasi ke tenaga profesional yang memiliki kemampuan untuk menganalisa secara psikologis meski saya sendiri penasaran banget pengen tahu saya kenapa. Saya yang selalu ke-trigger dengan permasalahan keluarga yang kerap datang (masalah kecil sekalipun), yang selalu punya pikiran untuk melarikan diri dari rumah dan pergi jauh dari keluarga siapapun, yang sering punya suicidal thoughts ketika kesedihan semakin larut dan berat, yang belum bener-bener ikhlas menerima kenyataan dan kekurangan yang ada. Saya nggak ngerti sama diri saya sendiri.


Saya pernah bertanya ke seorang sahabat, apakah saya perlu mendatangi psikolog atau semacamnya untuk tahu adakah yang salah dari diri dan cara berpikir saya ini. Ia nggak meng-iya-kan atau meng-nggak-an. Ia hanya memberi beberapa advice untuk saya cerna dan pikir lagi baik-baik. And then i asked to my boyfriend, he was like, “are you sure about this?”. Ia mengijinkan bila saya benar-benar merasa membutuhkannya. It was quite hard decision. Dan akhirnya sampai dengan detik postingan ini diterbitkan saya belum membuat keputusan apapun. Saya tahu berkunjung dan berkonsultasi dengan psikolog bukan suatu yang mengerikan, saya pun nggak pernah menganggap orang-orang yang datang ke psikolog sebagai orang-orang gila atau aneh yang mentalnya rusak. Saya hanya masih belum yakin dengan diri saya sendiri. Hanya itu.


Mungkin sebagian orang berpikir, "ahh masalah gitu doang sampe ke psikolog segala! lebay ah.". Hehehe. Iya nggak apa-apa, saya memang orangnya lebay banget. Kalo udah sedih suka drama dan overthinking. But you don't even know how hurt it is. You know a little. You couldn't feel it, even a bit. Jadi saya nggak khawatir dengan apa yang dikatakan orang lain, saya juga nggak peduli. Tapi saya harap juga nggak ada apa-apa yang terjadi di kepala saya, and there's nothing wrong with that.


Jadi, kira-kira apakah saya perlu buat pergi ke psikolog? 











Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
hai!



kamu pernah gak sih pas masih bocah punya keinginan atau mimpi konyol anak-anak yang sampe saat ini belum kesampaian? misal kamu pengen jadi musisi tapi nyatanya kamu gak bisa main musik apapun, atau kamu pengen beli sesuatu tapi belum pernah terbeli sampai saat ini?


(Source: Pinterest)

berhubung saya lagi kesulitan bahas hal-hal yang berat-berat, jadi saya hari ini mau cerita ringan aja. mendadak random ide ini muncul ketika kemarin selebgram yang saya ikuti akun instagram-nya karena kontennya menarik, Jonathan End (@jonathanend) mengunggah instastory dirinya sedang bermain otopet. haha. loh apa hubungannya cerita saya dengan otopet? dulu ketika saya masih bocah banget usia 6 atau 7 tahunan saya pengen banget mainan otopet. liat di televisi kayaknya seru main otopet. sama kayak skateboard deh tapi otopet terlihat lebih ramah anak kayaknya jadi saya sukanya otopet. hahhaha. intinya saya pengen banget punya otopet tapi berhubung saya anaknya pemalu dan gak enakan, saya gak berani untuk minta beli otopet ke orang tua. apalagi saat itu harga otopet entah berapa ratus ribu dengan uang bekal saya ke sekolah hanya 500 rupiah. gak berapa lama kemudian saat saya main berkunjung ke rumah sepupu, ternyata sepupu saya punya otopet! otomatis saya langsung pengen pinjam otopetnya. hehe. tapi yaa namanya juga pinjam ya pasti gak bisa lama-lama karena sepupu-sepupu saya juga mau main otopetnya.


selain otopet, ada hal-hal lain yang saya pengen banget saat kecil tapi belum kesampaian. diantaranya ada tas sekolah ransel anak-anak model koper! hahaha. i know it was silly thing but it was true! entah kenapa saya suka aja gitu. you can google it! modelnya menarik dan praktis, sebab saya pikir kalo lagi bawa buku banyak saya bisa langsung switch tas itu jadi koper haha jadi saya hanya tinggal menarik tasnya. lalu, kenapa belum kesampaian untuk punya tas model tersebut? lagi dan lagi saya malu dan gak punya keberanian untuk bilang dan meminta barang tersebut ke orang tua. hehe. akhirnya keinginan itu berakhir hanya sebatas keinginan dan gak pernah jadi kenyataan.


otopet sudah... tas koper kecil sudah... ada lagi ga ya? ada lagi dong! hahahaha. kalau yang ini bukan berupa barang, tapi lebih ke experience alias pengalaman, naik bianglala! mungkin kalo kamu pernah baca postingan tentang biang lala di blog ini pasti kamu paham deh kenapa saya sebut bianglala disini.
hingga detik ini saya ingin sekali naik bianglala, sesederhana saya ingin membuktikan pada diri sendiri bahwa rasa takut akan ketinggian dari anting-anting bianglala tak lagi mengganggu saya. *CIE haha but that's true! i want to prove myself that i can do whatever i want to do even when it's scary for little mini me few years ago.


mungkin 3 hal aneh yang jadi keinginan saya saat bocah. mohon maaf kalo postingan ini gak maksimal. nulis ini di ponsel dan dalam keadaan random, ya kerja, ya santai, ya sambil makan, dan lain-lain.



ciao!









( nrlhdyn — 12/07/2019 03:17 PM )
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

pernah nggak sih kita sejenak berpikir dan menyadari bahwa kita terlalu sibuk dan fokus meraih kenikmatan atau kebahagiaan besar untuk benar-benar bersyukur dan menyadari nikmat yang Tuhan beri?


mungkin sebagian besar dari kita baru akan benar-benar mengucap syukur apabila salah satu goals dalam hidup tercapai, apabila kita benar-benar merasa bahagia karena sesuatu, atau apabila kita baru saja mendapatkan nikmat. tapi kita lupa bahwa ada hal-hal kecil yang membantu kita setiap harinya agar hari terasa mudah, kita lupa bahwa ada hal-hal kecil yang patut kita syukuri setiap harinya. apa sih hal-hal kecil yang patut disyukuri setiap harinya? BANYAK SEKALI. mungkin kita hanya harus melihat lebih dekat lebih detail pada hal-hal yang telah terjadi setiap harinya. misalnya, “saya bersyukur hari ini tak kehujanan dalam perjalanan pulang dari kantor ke rumah. bila kehujanan, flu saya akan semakin parah nantinya.” intinya yaa bersyukur atas setiap kemudahan yang didapatkan setiap harinya.
saya juga sering lupa dan sering mengabaikan hal-hal kecil tersebut kok. namun beberapa hari belakangan ini, saya sedang berusaha memperhatikan hal-hal kecil tersebut dan berterima kasih padanya. belakangan ini juga saya sedang berusaha mengafirmasi diri setiap hari agar kepala dan hati berisi hal-hal yang positif. mungkin sebagian besar orang bilang, “untuk apa sih mengafirmasi diri sendiri?” atau “afirmasi itu apa?”
hmm baiklah mari cari tahu dulu apa sih afirmasi itu sendiri. menurut KBBI Online, kata afirmasi terdiri dari kata ‘afir.ma.si’ yakni bermakna penetapan yang positif, penegasan, dan peneguhan. jadi kalau diartikan menurut saya sih afirmasi adalah suatu tindakan pengucapan kalimat positif dan diharapkan mampu menciptakan sugesti yang baik pada orang yang mengucapkannya.
nah tujuan dari afirmasi itu sendiri apa sih? kalau saya pribadi sih untuk menciptakan rasa syukur terhadap berbagai hal yang ada pada diri saya, terhadap berbagai hal yang terjadi dalam hidup saya, dan sebagai motivasi alam bawah sadar saya agar tetap waras dan siap menghadapi hari-hari esok. duh ribet. haha. tapi paham maksud saya, kan? intinya, kalimat-kalimat afirmasi yang saya ucapkan diharapkan bisa mengisi ruang kosong dalam kepala dan hati saya agar terisi oleh hal yang positif dan rasa syukur. dan saya sedang berusaha mengafirmasi diri sendiri setiap hari sebelum tidur, sebelum benar-benar memejamkan mata, sambil memeluk boneka beruang kesayangan saya. hehe. jadi, tidak hanya ibadah 5 kali dalam sehari saja rasa syukurnya, tapi saya ingin benar-benar mengucap rasa syukur itu—mensyukuri segala sesuatunya yang terjadi di hari itu, sekecil apapun bentuknya, meski terkesan kurang menyenangkan pun benar-benar harus disyukuri. hehehe.


lantas, bagaimana ketika ada satu hari dimana hati dan kepala kita nggak tenang sebab ada kejadian yang kurang menyenangkan/buruk yang menimpa kita pada hari itu? sebagai manusia, tentulah sangat wajar bila kita merasakan perasaan sedih, kesal, marah, cemas, dan lain sebagainya. namun, saya berharap saya juga kalian yang membaca ini mampu mengatasi segala rasa-rasa negatif tersebut dan mengubahnya menjadi suatu hal yang positif dengan cara mengubah cara pandang kita terhadap kejadian tersebut. sehingga afirmasi yang bisa diucapkan pada diri sendiri pun tetap mampu menciptakan rasa syukur meski ada hal yang kurang menyenangkan yang dialami. cukup ingat bahwa perasaan-perasaan negatif itu tak pantas mendiami jiwamu, ingat bahwa perasaan-perasaan negatif tak mampu menguasai dirimu selamanya; akan selalu ada hati kecil yang mampu menenangkannya.



yuk mulai sekarang masing-masing dari kita setiap hari mengucap syukur atas nikmat dan kebahagiaan serta kemudahan di setiap harinya. syukur atas hal-hal kecil nan sederhana pun tanpa disadari bisa membawa pengaruh positif lho. hihi.














( nrlhdyn — 19/03/2019 09:39PM )
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
setiap orang, setiap dari kita, berusaha mempresentasikan dirinya sebaik mungkin. dimulai dari cara berpakaian, cara merawat dan merias diri, hingga cara bersikap. sama sekali tidak salah. lagipula, siapa sih yang mau dilihat atau dipandang buruk oleh orang lain?



saya pergi ke salah satu pusat perbelanjaan di kota, melihat ratusan atau bahkan ribuan orang hilir mudik dengan cara berpakaian yang beragam. namun satu kesamaan mereka; mereka ingin dilihat baik, atau setidaknya tampil baik di hadapan orang banyak. kita tidak tahu kan bagaimana mereka semua ketika berada di rumah? ketika segala topeng kehidupan mereka lepas dan hanya menyisakan diri mereka sendiri yang asli dan nyata tanpa berbalut sedikitpun topeng. saya mungkin termasuk dari ratusan orang tersebut. saya suka mempresentasikan diri saya sebaik mungkin di hadapan siapapun, terlebih bila di tempat kerja atau saat sedang hang out dengan sahabat-sahabat juga pergi berkencan. untuk apa sih? saya sih sederhana, saya suka bagaimana cara saya berpakaian sebab hal tersebut adalah diri saya. saya nggak mau berpakaian seperti pribadi yang bukan diri saya. saya nggak mengikuti trend busana. saya hanya berpakaian apa yang saya suka, tak peduli apakah ini sangat kekinian atau malah old fashion. saya hanya perlu rasa nyaman menjadi diri sendiri seutuhnya. dan saya rasa, saya nggak peduli-peduli amat apa yang dikatakan orang tentang saya, terlebih cara saya berpakaian. akan saya buatkan tulisan mengenai ‘topeng kehidupan’ ini di postingan selanjutnya, ya. hahaha.



—



tulisan ini saya buat ketika saya sedang sendiri di sebuah kedai minuman di pusat perbelanjaan. melihat berbagai manusia dan gerak-geriknya. melihat bagaimana mereka ingin dipandang ‘baik’ melalui topeng pakaian serta riasan yang mereka kenakan. melihat berbagai senyum dan tawa tercipta saat materi mampu memenuhi standar gaya hidup yang mereka jalani. ah, manusia.
lain kali, saya ingin observasi ke sisi lain manusia di tempat yang berbeda. wajah dan presentasi mereka pun akan berbeda.


(nrlhdyn — 02/03/2019 05:52PM)
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
sulit rasanya untuk menjelaskan bagaimana perasaan yang saya rasakan padanya. ia tak pernah tahu bagaimana sesungguhnya isi hati saya, terlebih kami jarang sekali berbincang mengenai hal tersebut. semenjak dulu masa sekolah, kuliah, hingga saya sudah memiliki pekerjaan saat ini, ia tak pernah bertanya tentang bagaimana hari saya berlangsung atau tentang bagaimana perasaan saya setiap harinya. sejujurnya, ia tak begitu perhatian dan mengenal diri saya sesungguhnya. ya, ia tak pernah benar-benar tahu diri saya seutuhnya; apa yang saya sukai (hobi), pelajaran apa yang sangat saya minati, cita-cita dan impian saya, atau bagaimana kehidupan yang ingin saya jalani. ia tak pernah tahu. pun, saya tak pernah berbagi mimpi dengannya. yang ia tahu hanyalah (saya) seorang gadis egois yang mandiri, yang suka tertawa sekaligus sering cemberut, yang pendiam sekaligus yang banyak bicara, seorang tukang boros dan paling malas makan, sok bersih, hingga seseorang yang pemalas sekaligus rajin dalam beberapa hal. di matanya, saya adalah saya; kulit luar saya.


hubungan kami semacam love-hate relationship. terkadang saya sebal ketika ia mulai meracau hal-hal negatif yang bisa meracuni kepala saya. saya pun tak jarang kesal dan menggerutu ketika kelelahan karenanya (membantunya). pun saya sering merasa bahwa ia adalah beban yang menghambat saya menuju kebahagiaan saya yang sebenarnya. saya benci ia yang terkesan tak peduli pada perasaan dan keinginan saya yang tak terucap, ia sungguh tak memiliki kepekaan terhadap perasaan saya. hal tersebut sangat menyebalkan dan tak jarang membuat saya terluka dan kecewa atau bahkan menangis. intinya, tak jarang ia bersikap menyebalkan dan tak sesuai dengan keinginan/harapan saya, dan hal tersebut yang saya tak suka darinya. namun, sebenarnya ia adalah sosok yang sangat saya kagumi, seorang figur yang membuat saya menjadi sekuat dan setegar saat ini, seorang sosok yang menginspirasi saya untuk menjadi perempuan mandiri.


hujan, badai, terik mentari, indahnya pelangi, dan segala macam fase dalam roda kehidupan telah kami lalui bersama. saya tak pernah menyesal telah melalui itu semua bersamanya. pahit, manis, asam, garam, dan segala macam rasa lainnya telah kami cicipi dan nikmati bersama. meski ada air mata, pun ada tawa disana yang melengkapi. hampir semua fase kehidupan lengkap dengan rasa-rasanya telah kami lalui bersama. saya tak ingin dan tak mau membayangkan betapa kelak suatu hari nanti hati saya akan patah sepatah-patahnya karena kehilangannya, ketika ia tak lagi ada untuk bercerita berbagai hal yang ia lalui seharian dan tak lagi ada untuk menjaga saya yang tak ingin terlalu dijaga.


tulisan ini untuknya yang telah menjadi bagian paling penting dalam hidup saya, yang memberi saya cahaya kehidupan lengkap dengan hujan dan badai serta pelanginya. terima kasih telah menjadi malaikat yang melindungi dan menjaga saya tetap dalam lintasan kehidupan yang baik. ini hanyalah sebuah tulisan untuknya yang bertambah usia hari ini, sebagai hadiah sederhana dari saya untuknya. ibu.



terima kasih telah menjadi manusia tak sempurna; manusia yang menempatkan Tuhan dalam hatinya dan masih tetap bergelimang cela dan dosa, manusia tak sempurna yang membawa cahaya kehidupan meski harus berjalan sendirian.



aku bersamamu, ibu. sehatlah selalu. bahagialah selalu. Tuhan selalu bersamamu.







—





(ps: doa-doa terbaik telah dipanjatkan untukNya, mari tetap berdoa)






(nrlhdyn — 13/01/2018 10:15PM)
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
(Source: Pinterest)


sebenarnya kalau ditanya "2019 mau ngapain?" atau "hal apa yang ingin terwujud di tahun 2019?" sih jawaban saya sederhana. saya sudah berpikir keras tentang keinginan-keinginan sederhana yang sangat diharapkan bisa terwujud di tahun 2019. dari tahun ke tahun pun setiap pergantian tahun, saya nggak pernah punya resolusi atau keinginan tertentu yang spesifik dan bersifat "harus". hidup saya nggak mau sekaku itu untuk menentukan berbagai keinginan. tekad saya nggak sebesar itu yang berambisi mewujudkan berbagai keinginan. ya intinya setiap pergantian tahun, saya merasa biasa-biasa saja.


sampai akhirnya tahun lalu saat pergantian tahun dari 2017 ke 2018, saya sempat membuat daftar keinginan dan harapan ke depannya di tahun 2018. salah satunya untuk lebih rajin dan intens menulis di blog, dengan konten tulisan yang bermanfaat tentunya. saat itu saya menargetkan 5 - 10 postingan tulisan dalam blog per bulan. saat itu saya sendiri nggak tau pasti apa saja yang akan ditulis dan nggak tau apakah saya bisa mencapai target. yang intinya, saya harus lebih aktif menulis dan mempublikasikannya di blog ini. selain itu saya juga berkeinginan untuk lebih rajin membaca buku, buku genre apa saja dan nggak harus beli.


dua resolusi atau keinginan di tahun 2018 tersebut nyatanya nggak terwujud sempurna. sangat nggak disangka-sangka, pada tahun tersebut beban pekerjaan saya di kantor ternyata bertambah. tepatnya pada bulan april 2018. badan yang lelah dan mata yang mengantuk membuat saya tak jarang sulit untuk meluangkan waktu menulis dan membaca. tapi di tengah berbagai kesibukkan yang ada, saat itu saya masih tetap mencoba untuk menulis apa saja. selain sebagai kegemaran, menulis juga buat saya sebagai bahan pelampiasan pelepas stres. nah bisa di liat deh udah ada berapa postingan yang lahir di 2018 di kolom archive. beda halnya dengan menulis, membaca butuh effort lebih untuk saya pribadi. saya harus ke perpustakaan atau toko buku untuk memilih buku bacaan yang benar-benar menarik minat saya. ya, saya termasuk orang yang pemilih sekali perihal buku bacaan. pernah ada satu novel fiksi yang saya beli entah tahun berapa. setelah saya baca ternyata cerita yang ditawarkan novel tersebut kurang menarik. nyesel? BANGET. saya merasa kesel dan nyesel sudah beli buku itu. pengen rasanya balikin buku itu dan tukar dengan buku yang lain. dan sampai dengan saat ini, saya nggak pernah baca buku itu lagi. hati belum memberi kesempatan kedua untuk buku itu. HAHAHA.


jadi, tahun 2018 selagi ada waktu, saya memberi kesempatan pada diri sendiri untuk membaca hal lain yang diluar kebiasaan. biasanya saya hanya baca novel dan novel kesukaan saya bergenre  fiksi metro-pop. menurut saya sih cerita yang metro-pop tawarkan lebih menarik ketimbang novel fiksi lain yang serupa. 2018 akhir saya beralih genre buku bacaan dari novel fiksi ke buku self-improvement atau psikologi. entah kenapa saya jadi tertarik sama buku-buku self-improvement. dan ketika buku tersebut dibaca, sensasinya ternyata berbeda dengan membaca novel fiksi biasa. ada hal-hal yang nggak saya dapatkan saat membaca novel fiksi biasa. sensasi menariknya membaca buku self-improvement tersebut membuat saya hingga saat ini terus mencari buku-buku sejenis yang menarik yang bisa saya baca, entah itu buku dari perpustakaan atau toko buku. nanti pada postingan lain, saya bakal bercerita mengapa saya tertarik membaca buku bergenre self-improvement dan jenisnya.




—



di tahun 2019 ini saya benar-benar nggak pengen bikin wish list yang berlebihan. tau nggak apa yang paling saya inginkan di tahun 2019 agar terwujud? saya sembuh, kesembuhan kesehatan badan saya lebih utama. sudah 2 bulan lebih sejak saya menyadari ada penyakit dalam diri saya, sudah 2 bulan lebih saya juga mengkonsumsi obat-obatan setiap hari untuk kesembuhan. melelahkan sebenarnya. tapi saya harus semangat, kan? selain kesehatan, kemudahan rejeki untuk mencapai tujuan saya yang lain adalah hal krusial yang penting untuk bertahan hidup. tahun ini saya benar-benar berniat untuk menabung lebih giat untuk tujuan penting lain. dan masih tetap berkeinginan untuk aktif menulis di blog ini, tapi nggak mau membuat terget. hehehe.







(nrlhdyn — 10/01/2019)
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
hi.


just want to thank everyone and especially this blog. terima kasih telah mendengarkan isi kepala selama tahun 2018. terima kasih untuk orang-orang yang mau mendengarkan pun menemani dengan lapang dada.


i wish you could love yourself more than anyone in this world, put yourself above all. i wish you could do the best on whatever you do. don't push yourself too hard, it will hurt you in the end. love to the fullest, but remember how to control those emotions. becarefull with your mind, it's going to be wild sometimes. again, control your emotions and feelings. be happy. please, put your happiness above anyone's. 


last but not least, thank you for every good things you did and pardon me for every flaws and mistakes i made.


see you in 2019, blognerds!







(nrlhdyn — 31/12/2018)
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
hidup rupanya tak memberi saya banyak pilihan. hanya ada 2 pilihan di sana; melompat dan terjun sampai ke dasar (entah itu dalam atau dangkal) atau diam di tempat menunggu malaikat maut menjemput?
i have to jump, to save my loved ones and me. i'm afraid, but i have to save me.. to save my soul.



—



pernah ngga sih kamu bertemu pada sebuah titik kehidupan di mana kamu harus memilih antara dua pilihan sulit; kamu harus "terjun bebas" untuk menyelamatkan hidupmu dan orang-orang yang kamu cintai, atau kamu memilih diam sebab perasaan takut yang menggebu-gebu dalam dada namun perlahan-lahan hal tersebut dapat membunuhmu? tahun ini, Tuhan memberi saya ujian yang cukup berat (kurasa). Tuhan membuat langkah kaki ini mencapai titik kehidupan tersebut, titik di mana saya harus berani untuk "terjun bebas" demi menyelamatkan orang-orang yang saya cintai, terutama menyelamatkan diri saya sendiri. jika tidak, saya akan kehilangan segalanya. 


sungguh pelik ujianMu, Tuhan..


hari ini saya telah menghadapi hal besar, dan rupanya saya (mungkin) sudah siap untuk "terjun bebas". apakah itu akan dalam atau sangat dalam, atau justru dangkal, entahlah. sebuah lompatan yang mengantarkan saya pada "terjun" itu sendiri. sebuah lompatan yang harus saya lakukan untuk semua orang yang saya cintai, terlebih untuk diri sendiri. sebuah lompatan yang memberikan rasa takut akan kegelapan di dasar sana, sekaligus memberikan rasa kewaspadaan untuk lebih siap dan lebih berani.



—



saya tak punya banyak pilihan. melompat dan terjun. tak peduli seberapa dalam kelak akan terjatuh, tak peduli seberapa takut yang saya rasakan, saya harus melompat. 




—




(nrlhdyn — 18/12/2018 04:52 PM)
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
saya telah menutup semua pintu dan jendela yang ada kemudian semua dikunci rapat. ada satu pintu yang tersisa dan saya biarkan terbuka: tak terlalu lebar, juga tak terlalu sempit. saya jaga agar satu pintu tersebut tak membuat saya kekurangan cahaya juga oksigen untuk bernapas. satu pintu yang bisa saya kunci kapan saja, hingga tak ada lagi yang cahaya tersisa serta oksigen yang mengudara.



—



seberapa sering kamu kecewa dengan orang lain? saya? hahaha. sering. banyak kekecewaan yang saya telan mentah-mentah tanpa dikunyah. rasanya tak begitu nikmat, justru bila sudah terbiasa rasanya hambar. namun tetap saja, akan ada perasaan aneh yang menganggu ketika kekecewaan itu datang. kekecewaan sudah akrab dengan hidup saya selama beberapa tahun belakangan ini. banyak hal terjadi yang 'memukul' diri saya keras sekali. banyak hal juga saya pelajari darinya. tetap saja saya seorang manusia yang memiliki batasan: batasan terhadap banyak hal perihal kesanggupan menghadapi sesuatu, batasan perihal keinginan mana yang boleh dan tidak, serta batasan perihal kehidupan sehari-hari.


tentu saja saya bukan manusia super yang tak memiliki batasan. definetely, i have a limit.


beberapa kekecewaan yang datang silih berganti membuat saya menjadi sedikit takut untuk melakukan sesuatu, termasuk mempercayai seseorang. kepercayaan adalah hal yang kompleks untuk saya pribadi. sebagai seorang introvert, saya tak mudah percaya pada seseorang, terlebih bila sudah pernah merasa kehilangan kepercayaan pada orang tersebut. rasa-rasanya sulit untuk membuat rasa percaya itu kembali.


itulah mengapa saya menutup semua 'pintu' dan 'jendela' yang ada dalam diri saya. mungkin saya sudah lelah menyambut orang-orang yang datang dan pergi silih berganti, mungkin saya sudah lelah menyambut orang-orang yang salah keluar dan masuk ke dalam hidup saya.

tapi ada satu 'pintu' yang saya biarkan terbuka. satu 'pintu' yang sampai dengan saat ini membuat saya bisa bernapas dan menikmati cahaya. satu 'pintu' yang sampai dengan saat ini memang masih sering 'memukul' saya dengan kekecewaan. namun, setidaknya satu 'pintu' tersebut masih memberi cahaya. bahkan meski hanya satu cahaya kecil, itu tetaplah cahaya.




—




(nrlhdyn — 15/12/2018 09:46AM)
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
kita tak pernah tahu pertarungan apa yang sedang manusia lain hadapi dalam hidupnya, dan seharusnya kita belajar menanamkan satu pelajaran penting di kepala bahwa setiap manusia selalu memiliki alasan tersendiri dibalik setiap sikap atau tindakan yang dilakukannya—yang mana mungkin kita tak tahu apapun tentang hal tersebut.



—

(Source: Pinterst)

saya termasuk orang yang pemilih dalam segala hal, dimulai dari hal sesederhana menu makanan hingga tipe-tipe manusia.

kenapa memilih menjadi seorang "pemilih" yang erat kaitannya dengan kerumitan sedangkan menjadi seorang yang sederhana dan tak pilih-pilih sangatlah jauh lebih mudah?

begini, saya menjadi seorang pemilih bukanlah tanpa sebab. mungkin bisa dibilang saya terlalu berhati-hati. kenapa sih terlalu berhati-hati? sebab saya tahu saya memiliki sesuatu yang mudah rapuh dalam diri saya; kepercayaan salah satunya. sehingga hal tersebut membuat saya seperti, "oh oke, harus berhati-hati dan kontrol diri."

buat saya, kepercayaan adalah salah satu hal penting dalam menjalin suatu hubungan, baik pertemanan maupun hubungan romansa. bahkan saat di tempat kerja pun kita tak pernah lepas dari rasa memiliki kepercayaan pada sesama rekan kerja. seolah itu suatu keharusan demi terciptanya hasil kerja yang baik. saya harus percaya pada bos dan rekan kerja saya demi terciptanya hasil pekerjaan yang baik (sesuai harapan), begitu pun mereka harus percaya kepada saya. intinya, ya sesederhana itu sebenarnya.

terkait hal dengan kepercayaan, sebenarnya saya adalah manusia yang sulit mempercayai seseorang. saat kepercayaan yang saya beri pernah dipatahkan berkali-kali, saya akan mundur dan menutup diri untuk percaya padanya lagi. mungkin saya akan bungkam, tak membiarkan seseorang yang pernah mematahkan kepercayaan saya itu tahu banyak tentang diri saya ke depannya. tentu saja tak lantas saya memusuhi atau bahkan menjauhi, saya hanya tak akan bisa bercerita banyak lagi terutama hal-hal pribadi dalam hidup saya.

mungkin pada umumnya manusia lain pun seperti saya, tapi mungkin saya akan sedikit ekstrem dalam melakukannya mengingat saya pun pada dasarnya adalah manusia yang tertutup. rumit ya?



—


jadi, buat kamu kamu yang saya percayai sesuatu, please, keep it as a secret. it's just you and me. sebab kamu adalah spesial bila saya mampu berkisah banyak padamu. 


cheers!








(nrlhdyn — 06/12/2018 07:58 AM)
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

About me

seorang perempuan yang memiliki kepala yang ramai, telinga yang bising, dan hati yang penuh tanda tanya.

Social Media

  • tumblr
  • facebook
  • twitter
  • instagram

Blog Archive

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates