Diberdayakan oleh Blogger.
  • Home
  • About Me
  • Thought
    • Self-Talk
    • Journal
  • Contact

Just Another Side of Me

beberapa minggu terakhir bagi saya cukup overwhelmed dengan berbagai pemberitaan di TV maupun di media sosial tentang Corona Virus Disease 2019 atau covid-19. entah karena rasa keingintahuan saya yang kelewat tinggi atau karena memang kurang kerjaan, saya sangat menyimak kasus penyebaran virus ini sudah cukup lama. tepatnya setelah virus ini outbreak di Wuhan, China dan pemerintah setempat memutuskan untuk melakukan lockdown demi menekan penyebaran virus. banyak berita tersebar mengenai asal muasal virus ini yang konon bersumber di sebuah pasar hewan yang berada di Wuhan. selain itu kabar mengenai banyaknya warga negara indonesia (WNI) yang berdomisili di Wuhan yang terpaksa berdiam diri di rumah/asrama, dan kebanyakan dari mereka adalah mahasiswa. dan ternyata nggak butuh waktu lama untuk covid-19 ini menyebar ke berbagai negara.


saat ini negara kedua yang mengalami wabah covid-19 terparah selain Wuhan adalah di Italia. nggak usah disebutin jumlah kasusnya berapa, mendengar angkanya saja sudah membuat kulit merinding. tahu nggak kenapa? karena virus ini menyebarnya cepat, gila-gilaan. fasilitas kesehatan di sana dibuat kalangkabut oleh virus ini. ibaratnya, mereka (para tenaga medis dan stafnya) diminta untuk berperang melawan musuh yang nggak keliatan bentuknya kayak apa. musuh ini adalah virus yang nggak bisa kita lihat dengan mata telanjang. otomatis, kita nggak tahu apakah virus ini sudah mampir di lingkungan sekitar kita atau belum. nggak ada yang bisa menjamin. 




dan sekarang, sudah hampir 1 bulan Indonesia sedang di uji dengan kasus serupa. penyebaran virus mulai bergerak sejak presiden mengumumkan ada kasus positif covid-19 di Indonesia awal bulan ini. dalam hitungan hari, kasusnya makin bertambah. bukan bertambah hanya 1 atau 2 atau 3 kasus, nambahnya gede-gedean. terhitung sampai hari ini, jumlah kasus positif di Indonesia mencapai 1000-an. peningkatan jumlah kasus kian meningkat saat beberapa hari yang lalu pemerintah memutuskan untuk melakukan tes corona massal di beberapa tempat yang dicurigai memiliki banyak kasus.


jujur aja saya agak khawatir mengingat kota yang saya tinggali saat ini memiliki kasus positif covid-19. memang ngga banyak, cuma 1 kasus kok dan alhamdulillah sudah mendapat perawatan di RS rujukan untuk kasus covid-19. tapi jumlah ODP (orang dalam pengawasan) dan PDP (pasien dalam pemantauan) cukup tersebar di beberapa wilayah di kota/kabupaten yang saya tinggali. apakah mereka tetangga saya? atau orang-orang yang saya kenal? nggak tahu. nggak cuma itu, yang saya tahu coronavirus covid-19 ini juga menyerang organ pernafasan (paru-paru) dan ini cukup bikin saya khawatir mengingat saya punya riwayat masalah dengan paru-paru. selain itu yang bikin saya khawatir adalah buruknya etika batuk/bersin/sakit orang-orang sekitar saya. kenapa begitu? banyak orang belum paham betul bagaimana etika batuk/bersin yang benar ketika di tempar umum. ketika mereka batuk/bersin sembarangan, tanpa sadar mereka sudah menyebarkan virus itu sendiri. memang sih bukan covid-19 juga, mungkin virus influenza biasa namun sama saja, 'kan?
kekhawatiran dan ke-paranoid-an saya bertambah ketika saya banyak mencari tahu dan (terlalu) mengikuti perkembangan kasus covid-19 ini. saya memang banyak mencari tahu berbagai tentang virus ini dan melihat perkembangan kasus ini di berbagai belahan dunia. namun terkadang semakin saya tahu, saya semakin overwhelmed dan ga jarang bikin stres dan ketakutan berlebih juga. batuk sedikit langsung kepikiran corona, demam sedikit langsung kepikiran corona. akhirnya sejak minggu kemarin saya sadarin kalau saya terlalu banyak menerima informasi dan ga jarang informasi yang saya dapatkan itu dari situs-situs berita online yang lihai memainkan kata dan kalimat agar jadi trigger sendiri bagi pembacanya. dan saya juga memutuskan untuk berhenti sejenak dari informasi-informasi yang berlebihan mengenai kasus ini. ada yang merasakan hal yang sama dengan saya?


mengkonsumsi berita itu penting, namun menyaring dan membatasi informasi secukupnya dan sewajarnya adalah bagian terpenting dari proses mendapatkan informasi. kita sebagai manusia juga ternyata harus cerdas untuk mengolah informasi dan harus tahu bagaimana caranya membatasi informasi supaya nggak ngalamin yang namanya overwhelmed. 


covid-19 yang baru muncul ini ternyata masih satu rumpun dengan penyakit SARS dan MERS. ketiga penyakit tersebut disebabkan oleh virus yang sama, yakni coronavirus yang biasanya berasal tertular dari hewan ke manusia. coronavirus ini sendiri adalah virus yang menyerang saluran pernapasan dan biasanya akan menimbulkan gejala masalah pernapasan yang mirip dengan pneunomia. yang membedakan ketiga jenis penyakit ini adalah masa inkubasi virusnya yang berbeda-beda, dan untuk kasus yang sedang kita hadapi (covid-19) memiliki masa inkubasi 14 hari. masa inkubasi sendiri adalah jangka waktu virus ketika masuk ke dalam tubuh manusia dan mulai berkembang biak di dalam tubuh. manusia dengan kekebalan tubuh yang baik, virus ini nggak akan bisa berkembang dan akan mati dengan sendirinya. namun tentu saja si manusia ini masih bisa menularkannya pada orang lain di sekitarnya. itulah kenapa kita harus mengkarantina diri sendiri di dalam rumah saat ini setidaknya selama 14 hari dan tentunya tetap menjaga daya tahan tubuh. orang yang dicurigai positif covid-19 ini memiliki gejala yang mirip dengan flu biasa, namun nggak ada salahnya kan bila kita tetap waspada? gejala-gejala yang umum adalah demam tinggi sudah berhari-hari, batuk kering atau tidak berdahak,  pilek, badan mudah lelah dan lemas, nyeri pada dada, dan sesak nafas. 


nah hal-hal apa aja sih yang bisa kita lakukan sebagai upaya pencegahan penyebaran covid-19 ini? tentunya ada beberapa hal yang bisa kita lakukan agar nggak terinfeksi sekaligus mencegah penyebaran virus.


1) Menjaga Daya Tahan Tubuh (Kekebalan/Imunitas)
menurut saya hal yang paling penting untuk memerangi penyakit adalah menjaga daya tahan tubuh atau memperkuat imunitas tubuh kita. kenapa? saya yakin dengan daya tahan tubuh yang bagus, penyakit pun males mampir. dan apalagi virus yang pada prinsipnya bisa mati sendiri ketika tidak bisa berkembang biak dalam tubuh. mengatur pola makan dan asupan gizi yang baik untuk tubuh adalah salah satu cara paling mudah untuk meningkatkan imunitas tubuh, dan jangan lupa untuk berolahraga secara teratur serta istirahat yang cukup

2) Menjaga Kebersihan Diri dan Lingkungan
menurut saya sejujurnya hal ini benar-benar masih menjadi pekerjaan rumah alias PR untuk orang-orang di berbagai negara. budaya hidup bersih dan sehat nggak jarang masih dianggap remeh oleh sebagian besar orang. padahal selain kekebalan tubuh, kunci lain dari hidup sehat adalah kebersihan diri dan lingkungan, lho. sesederhana rajin mencuci tangan menggunakan sabun selama 20 detik setiap kali habis beraktifitas yang banyak berhubungan dengan memegang benda-benda dan sebelum makan atau memegang wajah. permasalahan lain yang remeh tapi perlu di perhatikan adalah cara mencuci tangan yang baik selama 20 detik. hal ini yang perlu banyak kita edukasi ke orang-orang dan masyarakat, apalagi hal ini termasuk personal hygine, ya. penting banget.

3) Hindari Keramaian (Social Distancing/Physical Distancing)
kenapa kita perlu untuk sementara waktu menghindari keramaian dan kontak fisik? karena covid-19 ini menyebarnya sangat mudah sekali dan cepat. iya, CEPAT. ketika kita keluar rumah dan bertemu berbagai orang kemudian sempat berkontak fisik, maka virus akan menyebar semakin mudah dan semakin cepat. lalu, kita pun nggak tahu persis penyakit atau virus apaan yang nggak sengaja mereka (orang-orang yang kita temui) bawa dari rumahnya atau dari tempat lain. oleh karenanya di masa wabah covid-19 ini, disarankan dan dianjurkan untuk kita menghindari keramaian dan kontak fisik langsung dengan orang lain, dan juga menghindari kegiatan-kegiatan yang sekiranya akan ada tumpukan massa. contohnya hindari keramaian di pasar atau super market. selain itu pemerintah sudah menganjurkan untuk bekerja, belajar, dan beribadah di rumah saja demi menghindari kemungkinan terjangkitnya virus covid-19 ini. 

4) Selalu Berpikir Positif dan Bahagia
mungkin kamu bertanya-tanya kenapa sih berpikir positif dan menciptakan rasa bahagia perlu kita lakukan? kembali lagi pada poin ke-1, ya. berpikir positif dapat menjaga kita dari gangguan-gangguan psikologis yang kerap muncul di tengah-tengah pandemi ini. entah stres atau overthinking. kalau sudah stres/overthinking tanpa kita sadari daya tahan tubuh kita melemah, lho, karena otak terlalu bekerja keras untuk fokus ke permasalahan yang sebenarnya bisa kita selesaikan sendiri dengan cara melatih pola pikir agar berpikiran positif. selain itu menciptakan rasa bahagia pun terbukti dapat menambah daya tahan tubuh. bila kita bahagia, otak akan memproduksi hormon apa gitu ya saya lupa tapi yang pasti hormon itu bakal menjadi stimulus untuk menambah daya tahan tubuh. 



sudah mencari informasi tentang covid-19 dan masih menganggap sebelah mata? hehe. jangan. kita sebagai manusia nggak boleh terlalu jumawa atau sombong—pede banget keluar rumah untuk nongkrong-nongkrong. walaupun belum terdapat kasus di kota-kota kamu, lebih baik memang mulai membiasakan diri dengan menjaga kebersihan dan kesehatan serta menerapkan social distancing/physical distancing dan gerakan #dirumahaja. kenapa? kamu nggak tahu kan kamu memiliki virus itu atau nggak, kamu juga nggak tahu pasti bagaimana kondisi tubuh kamu. jadi, bijaknya ya memang #dirumahaja.


nggak banyak yang bisa kita lakukan selain menjaga diri dan keluarga masing-masing dari segala penyakit, menjaga kebersihan dan kesehatan tubuh serta menerapkan perilaku sesuai himbauan pemerintah. hal yang bikin sedih dari pandemi ini selain kehilangan sejumlah nyawa adalah terpuruknya perekonomian di Indonesia. belum berlakunya lockdown saja sudah terpuruk, apalagi jika suatu saat lockdown berlaku? entah berapa kerugian yang di tanggung setiap orang selama masa pandemi ini. terutama para buruh atau pekerja harian yang bila hari itu mereka nggak bekerja ya nggak dapat uang/penghasilan dan esok hari entah makan apa.


kita sebagai manusia, sebagai warga negara indonesia, sudah sepatutnya menaati peraturan-peraturan yang ada terlebih ketika terjadinya pandemi ini. pandemi covid-19 ini pun secara nggak langsung memaksa kita untuk hidup lebih sehat dan lebih bersih. 
semoga wabah covid-19 ini lekas berlalu, kita—masyarakat—bisa lekas pulih dari berbagai kesedihan yang dialami semasa wabah. terlebih sudah kurang dari satu bulan lagi mendekati bulan Ramadhan. saya cuma berharap ketika Ramadhan tiba, wabah covid-19 ini segera menghilang dan kehidupan kembali seperti biasanya. ada amin? aamiin ya rabbal'alaamiin...













( nrlhdyn — 27/03/2020 09.30 PM )
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
hai. 


sudah lima belas hari yang lalu tepat ketika dokter syifa imelda menyatakan bahwa saya sudah sembuh dan bisa terbebas dari ritual minum obat ala saya yang sangat merepotkan. apakah saya bahagia? tentu. namun bukan perasaan bahagia dengan euforia huru hara, lebih pada perasaan bahagia yang sangat tenang. it's so peaceful. rasanya lega banget kayak abis buang air besar setelah berhari-hari sembelit.


(Source: Pinterest)


ketika dokter mengatakan saya sudah sembuh sudah bisa lepas dari obat, saya pun sedikit bingung. sebab sebelumnya dokter meminta saya untuk masuk ruang periksa pasien rawat jalan yang sebelumnya jarang sekali dokter memeriksa saya di ruang periksa. ia memeriksa bagian leher saya, memastikan tidak ada benjolan atau semacamnya yang ada di sana. ia juga memeriksa detak jantung saya lewat stetoskop. everything's normal, isn't? dia bertanya. saya hanya membalas dengan anggukan dan yeah nothing's happen there, it's all good, i guess. setelah selesai di ruang periksa, ia menjelaskan pada saya sedikit mengenai bercak-bercak di paru-paru saya melalui hasil rontgen, rontgen yang dilakukan seminggu yang lalu dan rontgen yang dilakukan bulan februari lalu. jujur aja saya ngga terlalu paham, saya hanya menganggukan kepala dan memasang muka pura-pura paham akan apa yang ia katakan. tak lama kemudian ia langsung menyatakan saya sembuh dan bisa bebas dari obat rutin untuk paru-paru itu. pokoknya saya bingung. kemudian asisten dokter memberikan penjelasan lebih rinci lagi. dokter hanya meresepkan vitamin untuk berjaga-jaga kondisi badan ini. ia juga bilang kalau segala obat paru-paru yang ada di rumah harus tetap dihabiskan, berikut vitamin-vitaminnya. 


hehe. 


kemarin adalah hari-obat-tanpa-obat pertama saya. lewat dua minggu setelah dokter mengatakan saya sembuh dan terbebas dari rutinitas minum obat. rabu pertama saya tanpa obat. jujur saja ketika memastikan untuk berhenti, saya agak-agak ragu. seperti ragu atau belum ikhlas kalo harus lepas dari obat. bukannya saya doyan minum obat, hanya saja ada sebagian diri saya yang belum merasa benar-benar yakin akan hilangnya penyakit yang saya derita ini.


"bener nih udah boleh lepas dari obat?"

"kalo lepas obat, ngga akan kenapa-kenapa lagi nih?"

"kalo ternyata masih sakit dadanya gmana dong?"


pertanyaan-pertanyaan semacam itu yang ada di kepala saya. entah kenapa..


rasanya agak deg-degan melewati batas waktu minum obat semalam, dalam hati bergumam, "mudah-mudahan aja ngga ada apa-apa lagi setelah bener-bener berhenti minum obat." sambil menghembuskan napas panjang, saya berusaha meyakinkan diri bahwa saya ngga akan kenapa-kenapa tanpa minum obat hari ini. sampai sekarang pun, saya masih berusaha meyakinkan diri. hehe. mungkin obat yang selama ini saya minum punya zat adiktif apa gimana ya? udahlah jelas-jelas obatnya pahit banget, minumnya juga banyak, ngapain juga saya kok merasa aneh kalo ngga minum obat? hahaha.


sementara itu, di pouch obat pribadi masih tersisa beberapa gelintir vitamin yang setiap check-up selalu diberi tapi jarang saya minum. hahaha. tapi saya ingin berjanji pada kalian yang membaca tulisan ini dan tentunya pada diri saya sendiri bahwa saya harus lebih rajin lagi minum vitamin sebagai teman masa peralihan dari minum obat ke benar-benar ngga perlu minum obat, juga sebagai teman penyokong badan ini supaya tetap berdiri.


afterall, saya bersyukur banget wish list tahun 2019 ini terwujud, Tuhan kabulkan apa yang benar-benar jadi keinginan saya di hari ulang tahun ke-24 yang sudah lewat itu. meski saya secara sadar dan memahami betul bahwa paru-paru saya ngga lagi sama. ibarat luka di kulit luar, luka itu meninggalkan bekas luka meski sudah ngga lagi terasa sakit atau nyeri, meski sudah mengering. semuanya ngga akan lagi sama.


terima kasih, paru-paruku, sudah berusaha sembuh dan bangkit dari keterpurukan dan sudah melawan sekuat tenaga selama sembilan bulan terakhir ini. terima kasih, paru-paruku, sudah mengingatkan bahwa kesehatan itu mahal, terlebih ketika kamu ngga punya asuransi kesehatan dari swasta ataupun asuransi yang telah disediakan pemerintah. terima kasih, paru-paruku, sudah bertahan sejauh ini dan bersabar dengan gaya hidup saya yang ngga sehat, pola hidup saya yang cukup berantakan. 


terima kasih, kamu, yang sejak hari pertama darah itu keluar dari mulutku bersikeras menarikku ke dokter untuk memeriksa semuanya, hingga menemani selama prosesnya dan mengingatkan sebisanya. meski ngga sempurna, waktu dan tenagamu sangat membantu saya melalui semuanya. meski saya harus selalu check-up ke dokter dan menjalani pemeriksaan laboratorium sendirian, kamu menemani meski jauh namun terasa dekat. terima kasih sudah memberikan saya kesempatan untuk tumbuh mandiri dengan sendirinya, bersama dengan apa yang ada dalam diri saya. terima kasih sudah selalu menerima saya apa adanya, meski berat badan saya melonjak hampir 10 kilogram dan mood swings saya yang ngga terprediksi. terima kasih, dukungannya.



salam sayang dari saya untuk kamu, paru-paruku, serta semua pembaca setia blog pribadi ini.


xoxo












( nrlhdyn — 26/09/2019 11:27 AM)

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
pernah ga sih merasa saat kamu lagi melakukan perjalanan—misalnya ke luar kota—kamu merasa nggak pengen balik lagi ke tempat tinggal kamu sebelumnya? seperti ingin menetap lebih lama, dan memulai chapter baru di kota yang baru tersebut/kota yang sudah sering kamu kunjungi? i've been feeling that way often. rasanya kayak nggak mau balik lagi ke kota tempat kamu tinggal. rasanya kayak pengen memulai chapter hidup baru lagi di tempat yang baru—a fresh start—dengan orang-orang baru. rasanya kayak pengen meninggalkan sesuatu. 



hehe. that's the feel. setiap saya melakukan perjalanan ke luar kota, entah itu kota yang belum pernah saya datangi atau kota yang cukup sering saya kunjungi, saya merasa enggan untuk pulang ke kampung halaman (tempat saya tinggal saat ini). bukan karena tempat tinggal saat ini terlalu ‘kampung’ atau ‘desa’ dan saya tenggelam ke dalam dunia perkotaan masa kini, melainkan karena banyak hal yang ingin saya tinggalkan di sini. berbagai kenangan manis hingga yang paling membuat traumatis, ingin saya kubur dalam-dalam. i want to make a fresh start, and i think it's perfect when you start again your life with new moves—livin' in a new place, new faces, new cultures, new strategy to survive. it sounds fun. saya pengen pindah ke kota yang baru lengkap dengan wajah-wajah baru, lingkungan baru.


i want something new, something that i can take control, live my own life and don't need to follow someone else's rules. i want to rule my own stuff, my life and those shit. i want to know what i'm capable of. i want to know... how can i live my own life under my rules? how can i survive when the strom is looking for me? how can i know if i don't make the first move for myself? how can i prove to myself that i can independently live my life?


how can i?


:(
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
mungkin harusnya nggak nulis hal ini disini.. it's just so hard for me to do things even faking the smile on my face lately.


seminggu belakangan i was all alone. setiap hari kerjaannya cuma pagi ngantor sampai sore setelahnya pulang ke rumah. jalan-jalan berkeliling mall sendirian and i have no place to go or someone to keep me company or to talk with or something to do. like, seriously, NONE at all. sebenarnya, pergi atau jalan-jalan sendiri (nonton bioskop, makan di luar, shopping, ke toko buku, dll) bukan hal yang aneh buat saya pribadi. and i feel confident when i do. but not this time. rasanya seperti ada yang hilang, rasanya seperti ada yang kurang, and feels so empty. kosong. hampa. sekilas membosankan tapi justru lebih dari sekedar membosankan. it was horrible.


and this saturday night alias sabtu malam alias malam minggu, it's just so blue. seharian ini hanya di rumah menyelesaikan beberapa pekerjaan rumah, makan yang nggak jelas makan apa, dan yang pasti cuma di kamar nonton serial tv ‘gossip girl’ yang seminggu ini sudah habis season 3 dan kemarin baru saja memulai season 4. movie marthon, just like the old times, sounds like me.


afterall, mungkin saya cuma sedang merasa kesepian dan sendirian dan nggak tahu mau ngapain dan cukup jenuh dengan kegiatan-kegiatan setiap hari yang bernama ‘rutinitas’.


i'll see you soon!














( nrlhdyn — 11/08/2019 10:53PM )
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
hari ini entah kali ke berapa saya datang ke rumah sakit untuk kontrol kesehatan paru-paru. tak biasanya rumah sakit seramai ini, terutama untuk poliklinik yang saya datangi. padahal kali ini saya sengaja datang 30 menit lebih awal dari biasanya tapi nyatanya antre-annya begitu panjang. hehe. resiko sih berobat di rumah sakit ini, RSUD lebih tepatnya. jadi orang-orang dari berbagai wilayah di sekitar kota kecil tempat tinggal saya ini yaa datang ke rumah sakit ini. sebenarnya bisa saja saya memilih melakukan berobat jalan di rumah sakit lain (mungkin rumah sakit swasta) agar pelayanannya lebih cepat, namun saya masih berpikir rupiah dalam dompet. hahaha. bisa-bisa mereka menjerit secara brutal.


(Source: Pinterest)


hampir 95% setiap saya berkunjung untuk bertemu dokter, saya selalu sendiri. tak didampingi oleh siapapun. kekasih bekerja, sedangkan keluarga pun terlalu sibuk oleh urusan masing-masing mungkin tak  peduli juga kapan saya kontrol kesehatan atau kapan saya minum obat. bhaiq, saya tak mau membicarakan itu saat ini. saat ini saya cuma mau cerita tentang kontrol kesehatan hari ini.


kunjungan kali ini saya dapat nomor antre 60, sangat jauh daripada biasanya. menunggu untuk pendaftaran awal pun memakan waktu 60 menit dengan kondisi saya yang kurang tidur beberapa hari belakangan ini lantaran terlalu lelah dan terlalu banyak nonton serial tv via streaming. hahaha. my bad! but i enjoyed it anyway~
setelah berhasil mendaftar, saya mendatangi poliklinik yang saya tuju; poli paru. dokter spesialis yang menangani saya bernama dokter ali, beliau terlihat cukup sepuh namun berpengalaman dan masih sangat bersemangat setiap kali bertemu pasien. and here i am now, duduk-duduk di ruang tunggu depan pintu poli paru menunggu sang asisten dokter menyebut nama saya untuk bergilir masuk ke ruang periksa. masih menunggu... terus menunggu... tetap menunggu... selalu menunggu... meski di tengah kantuk yang terus-terusan menghampiri. what a though life! LOL


tanggal 17 juli 2019 tepat saya menjalani pengobatan selama 7 bulan. iya, tujuh bulan lamanya saya terus-terusan bolak-balik ke RSUD ini demi menyelamatkan paru-paru saya dan sudah selama itu pula saya rutin mengkonsumsi obat-obatan during this recovery treatment! jujur saja, saya sudah sangat lelah dan jenuh terus-terusan minum obat. rasanya bosan. i feel so sorry for my kidney. i really do. namun saya pun tak tahu lagi bagaimana harus menyelamatkan paru-paru ini agar bisa menjaga saya tetap hidup. but i will never give up. sejauh ini hasil yang didapatkan dari pengobatan ini ya cukup baik, badan saya terasa baik-baik saja. kecuali ketika kelelahan berlebih, mendadak dada saya nyeri, that means i should go some rest as soon as possible.


kunjungan ke dokter hari ini masih sama seperti kunjungan-kunjungan sebelumnya. saya masih harus mengkonsumsi obat-obatan dan minum vitamin (yang sejujurnya entah kenapa jarang saya lakukan). mungkin sebentar lagi? i don't know.. i wish this treatment would come to an end soon!



bye!








( nrlhdyn — 17/07/2019 03:54 PM )
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
(Source: Pinterest)


tepat 17 hari yang lalu sisa usia saya berkurang seiring dengan angka yang bertambah di bilangan usia hidup di dunia. dua puluh empat adalah bilangan usia saya kini, sebuah angka yang semakin membesar setiap tahunnya (yang mudah-mudahan selalu diiringi dengan semakin berkembangnya pola pikir dan tingkat kedewasaan, ya). dua puluh empat yang tak bisa lagi dikategorikan remaja, sebuah angka yang kurang dari satu untuk mencapai se-per-empat abad (quarter). whatever you named it, it's just a number you can count. 


17 hari yang lalu tak ada perayaan hari lahir seperti pada umumnya, tak ada balon warna warni atau kembang api, tak ada lilin atau kue untuk ditiup dan dinikmati, tak ada kartu ucapan atau hadiah-hadiah, sayangnya hanya ada saya seorang diri yang menjalani hari itu seperti tak terjadi apa-apa. and that's okay, i understand why. mungkin bagi sebagian orang, hari lahir merupakan suatu yang harus dirayakan, hari yang dianggap istimewa sehingga semua orang harusnya mengingat dan memberi ucapan. saya sendiri percaya bahwa sebuah ucapan selamat hari lahir serta doa-doa yang diucapkan mampu membuat senyuman di bibir seorang yang menerimanya, membuat dirinya bersukacita. setidaknya itu yang saya percaya mengenai hari lahir. tak terkecuali saya. saya akan merasa bahagia ketika menerima ucapan tersebut di hari lahir saya. sesederhana saya akan berpikir bahwa  ia mengingat hari terpenting dalam hidup saya. tak perlu ada kue, lilin, balon, kembang api atau hadiah kerlip warna warni. hanya sebuah ucapan sederhana dan perlakuan yang tulus, saya rasa itu semua sudah lebih dari cukup. 


saya jadi ingat perayaan-perayaan lain di hari lahir terdahulu. kelas 3 SD saya pernah di siram dengan air dingin berember-ember oleh teman-teman sekelas sepulang sekolah dan berakhir sampai rumah dengan basah kuyup. lalu entah pada kelas berapa ketika SD, ibu membuat tumpeng (nasi kuning yang dibentuk kerucut dan disajikan dengan berbagai lauk khas) dan mengundang saudara dekat untuk ikut menikmati tumpeng. saya ingat benar hari itu saya memakai pakaian atau gaun berwarna merah muda berhiaskan pita dan kerlap kerlip. saya suka sekali gaun itu. hari itu saya bahagia; memakai gaun cantik kesukaan dan berkumpul bersama keluarga dekat. di tahun-tahun berikutnya, kala itu saya suka sekali pizza, bapak membelikan saya pizza ukuran besar untuk dinikmati di rumah bersama-sama. bagian yang saya tak suka dari pizza atau makanan lain yang sejenis adalah mayonais. dan di tahun-tahun setelahnya masih ketika SD, bapak membelikan saya boneka beruang besar sekali berwarna coklat muda (krem) dan tangannya sedang memeluk bantalan boneka berbentuk hati berwarna merah muda cerah yang bertuliskan "Love You".


memasuki masa SMP sejauh yang mampu saya ingat, saya tak lagi menerima kejutan atau hadiah-hadiah dari orang sekitar, termasuk orang tua. mungkin bapak dan ibu merasa sudah bukan waktunya lagi memberi saya hadiah kecil atau membuat perayaan khusus di hari istimewa itu. selain itu, saya tak mampu mengingat lebih banyak hal-hal di masa SMP. masa SMA pun tak jauh berbeda. hanya ada sedikit ucapan yang saya terima dari teman-teman dan sahabat terdekat. tak lagi ada hadiah atau perayaan, terlebih kala itu saya harus menghadapi cobaan-cobaan hidup dalam keluarga yang memaksa saya untuk tak memikirkan perihal perayaan hari lahir atau perayaan lainnya. hingga saat saya memasuki usia tujuh belas tepat ketika resmi lulus dari SMA, bapak mengirim sebuah kue ulang tahun rasa coklat yang diatasnya terdapat hiasan bunga dari krim kue dan bertuliskan "happy birthday, (............) 17 th". i was so shock. ketika seluruh dunia saya akan bapak telah hampir hangus karena cobaan kehidupan, bapak mengingat hari istimewa saya dan mengirim kue ulang tahun. but he wasn't there, he was out there nowhere. he wasn't there for me, but his cake did.


banyak kenangan tentang hari lahir yang terpatri dalam hati dan kepala saya. dan sejauh yang saya ingat, hari lahir yang paling istimewa adalah beberapa tahun lalu ketika kekasih memberi sebuah hadiah kecil yang diam-diam ia sembunyikan di suatu tempat di sakunya. hadiah kecil dan kenangan manis yang diam-diam membuat saya bahagia hanya dengan mengingatnya saja. hadiah kecil dan bagaimana hari itu kami tutup dengan tangis bahagia (setidaknya untuk saya). it's so beautiful how memories could drive your mind into that time and suddenly made you happy somehow.


tahun ini tak lagi ada perayaan istimewa, tak lagi ada kue atau lilin atau balon-balon serta hadiah kerlip warna warni. hanya ada saya dan ide tulisan tentang hari lahir yang sedang bergelayut di kepala. hanya ada rasa syukur yang berusaha saya tanamkan dalam hati dan kepala. jika kamu tanya apakah saya masih ingin dibuatkan perayaan atau hadiah-hadiah kecil, tentu saja jawabannya akan selalu "YA!". hehe. tentang hadiah yang ingin saya terima di dua puluh empat ini adalah sesederhana Tuhan angkat penyakit yang ada dalam tubuh ini sehingga saya kembali menjadi manusia sehat seutuhnya tak perlu lagi mengkonsumsi obat-obatan hanya untuk sembuh, dan tak perlu lagi merasa lemah when i knew i am stronger enough to live.


i am officially twenty four years old, and i am hoping there's so many good beautiful things ahead to keep me alive and well.













( nrlhdyn — 22/06/2019 )
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
eid mubarak—the greatest day for muslim, being ‘clear’ by forgiving each other, time to spend more time with family and the love ones.



—



perayaan yang dirayakan satu tahun sekali oleh seluruh umat islam di seluruh penjuru bumi. saya dan ibu biasa menyiapkan segala sesuatunya sendiri untuk keperluan perayaan tersebut di rumah kami. biasanya satu atau dua hari sebelum hari perayaan, kami berbelanja ke pasar kemudian membuat menu makanan yang sudah menjadi wajib hukumnya untuk ada di hari itu, yakni ketupat, opor ayam, dan sambal goreng kentang/daging. sedangkan biasanya pada lima atau enam hari sebelum perayaan, kami membuat kue-kue untuk dihidangkan saat hari besar itu. hehe. intinya untuk hari besar itu kami cukup sibuk mempersiapkan segala sesuatunya yang sudah menjadi tradisi. 


biasanya kami membuat kue-kue kering khas buatan ibu yang rasanya tidak ada duanya, seperti kue kering keju dan kue kering nastar (berisi selai nanas). saking nikmatnya kue buatan ibu ini, saya malas untuk sengaja membeli kue kering di tempat lain. hehe. biasanya juga kami membeli beberapa kue kaleng atau cemilan-cemilan lain (kripik dll) untuk dinikmati bersama. sedangkan satu hari sebelum hari besar, saya biasa bangun pagi untuk membuat ketupat; mengisi satu per satu kantong ketupat dengan beras dan memasaknya dalam panci yang cukup besar. kemudian dilanjutkan dengan memasak opor juga sambal goreng kentang/daging. 


itu adalah kebiasaan kami dari tahun ke tahun (dahulu) setiap menjelang hari besar umat islam itu tiba.


kemudian ketika hari itu tiba, kami sekeluarga akan bangun pagi-pagi sekali untuk pergi ke mesjid terdekat untuk melaksanakan ibadah hari raya (sholat idul fitri atau biasa disebut sholat ied) dan setelah kembali ke rumah dengan perasaan sukacita dan bersalaman saling memaafkan. biasanya sanak saudara akan tiba di rumah kami untuk berkumpul, berbagi kebahagiaan dan saling mengeratkan tali kekeluargaan kami sembari menikmati hidangan-hidangan yang telah ibu buat kemarin hari. rasanya tidak ada satu hal pun yang membuat kami berdukacita. kami menikmati waktu berkumpul bersama, bercengkrama dengan satu sama lain. perayaan yang saya rasa wajib kita syukuri adanya tatkala kita masih memiliki orang-orang terkasih yang masih menggenggam tangan kita untu saling menguatkan. oh ya, tak jarang kami juga membuat rencana pergi ke tempat wisata atau keluar kota untuk piknik bersama sekeluarga besar, dan biasanya di hari raya hari ke-2 atau ke-3 adalah eksekusi yang pas untuk rencana tersebut. 


itu adalah kebiasaan kami (dahulu) saat hari raya itu tiba. 



but, it's different now.


kenyataannya berubah sudah beberapa tahun belakangan, saya dan ibu hanya melakukan perayaan biasa-biasa saja. tak ada hidangan yang berlimpah atau baju baru. tak ada lagi momen yang benar-benar istimewa di hari raya itu atau rasa sukacita tanpa berselimut duka. kenyataannya bahwa sudah beberapa tahun belakangan saya melewati hari besar itu dengan banyak berdiam diri dan melakukan hal-hal biasa layaknya di hari-hari biasa. rasanya hari raya sudah tak semeriah dahulu, rasanya hari raya sudah tak sehangat dahulu. dan sudah satu atau dua tahun belakangan, hari raya ini saya gunakan untuk mengevaluasi diri di hadapan sang pencipta dan berusaha memandang suatu hal lebih dekat lagi dan dari sudut pandang yang berbeda.


seperti tahun ini, hari raya kami isi hanya dengan berkumpul keluarga besar ibu (itu pun sangat tidak lengkap) di rumah kami. sebagian berbincang-bincang dengan sedikit kerut di kening sambil berkeluh kesah dan sebagian yang lain asik tidur siang dan bermain gadget. hehe. kemudian selepas ashar kami pergi ziarah ke makam leluhur atau orang tua kami yang telah berpulang ke sang pencipta. sesederhana itu. hanya perbincangan omong kosong dan keluhan-keluhan perihal kehidupan, tak ada rencana sukacita lainnya selain kembali ke rumah masing-masing dengan perasaan yang biasa saja. hehe. meski demikian, saya masih berusaha untuk mensyukuri apa yang ada di hari raya ini; keluarga, hidangan, kerukunan, serta kesehatan. hal-hal yang jarang kita syukuri adanya. 


tahun ini masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya dan kini buat saya yang terpenting dari hari raya ini adalah sebuah pintu yang terbuka lebar untuk menjadi lebih baik lagi di hadapan sang pencipta, untuk mencari kedamaian yang setenang-tenangnya damai dalam diri ini, dan untuk mencintai diri lebih dalam dan lebih baik lagi dari sebelumnya. sebab akhirnya saya sadari satu hal; setiap kali saya merasa sendiri dan berbeda, ada diri saya yang sangat kecil dan utuh yang sebenarnya selalu ada dan menerima yang terkadang tak mendapat perlakuan selayaknya perempuan. 


mohon dimaafkan, ya, atas segala khilaf/salah baik dari sikap dan kata-kata. selamat berkumpul di hari raya untuk kamu yang sedang membaca tulisan ini. selamat berlebaran, berbahagia, dan bercengkrama bersama keluarga dan orang-orang terkasih. jangan lupa untuk bersyukur dan berbahagia setiap hari. 😊












( nrlhdyn — 05/06/2019 01.44 PM )
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
“you already failed me, dad. you really did.”

this morning i texted my dad, asking for help for my mom. i texted him first. he said that he might couldn't help me. i didn't know what happen but it turned out to speaking up my feelings and his too. i told him that i was dissapointed from the very first start he left me, far away from home.


—

(Source: Pinterest)

it's for you, dad, finally i let you know that i'm so dissapointed on you from the very first start you left me hanging there 10 years ago, making me like this. but i don't wanna blame you, because i know it's my fault for not texted you oftenly and being such careless kid. you should know there's a HOLE in my heart, and it still hurts and got me cry everytime i speak about it.

you made big walls within us, keeping us apart. 10 years ago you kicked me out of your house with your new family. silently i cried over the night knowing you didn't want to be with me, your son, and your loyal-wife anymore. you turned off your phone along the night for almost 8 years just to make sure your new wife didn't know if i called, texted you or something. you cutted me off just to call you everytime i wanted to. it's been thousand days and nights without you by my side for the last 10 years.

i don't want to be like you or mom. i want to be like me, better version of me as a human, as a daughter, as a woman, as a wife and as a mom. now i don't know how to deal with it, i'm struggling with self-love and the disease in my body. you don't wanna know about it, do you? that's okay.

all i want you to do is, please help me taking care of mom. you don't have to worry about me because i already figuring myself out. i can take care of myself. just help her whenever she needs anything.

and now i don't know what i'm going to do to you. i don't want to push you away. i just don't know how to fix this. 

but anyway thank you for failed me, you did such a great job as a father to your horrible childerns. 

i love you, and i will always will even it hurts to love someone who already lost. :) 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
pemilih, adalah kata yang tepat untuk saya ketika petang itu saya dan kekasih berbincang-bincang sembari menunggu hujan reda. awalnya kami hanya berbincang perihal jodoh dan keyakinan untuk menikah hingga akhirnya tema obrolan melebar ke berbagai hal kehidupan. tapi yang ingin saya ceritakan di sini adalah bagaimana saya yang ternyata seorang pemilih.



—


sebenarnya, saya tidak pernah mengkotak-kotakan sesuatu; kotak ini berisi kumpulan orang-orang yang sebatas rekan kerja, kotak itu berisi kumpulan kenalan-kenalan semasa SMP dan SMA, kotak yang lainnya berisi kumpulan orang-orang yang saya ijinkan masuk ke ranah pribadi saya, dan kotak-kotak lainnya. namun, mungkin secara tidak sadar saya telah melakukannya, secara tidak sadar banyak bagian-bagian dalam social life saya yang sengaja saya pisahkan. hehe. sumpah, saya tak sadar telah melakukan itu semua pada kalian.
berdasarkan fakta tersebut, saya jadi tahu bahwa ternyata diri saya ini adalah seorang pemilih ulung. dan memang benar, saya pemilih dalam menyeleksi orang-orang yang bisa memasuki kehidupan saya secara pribadi. oleh karenanya, saya memiliki sedikit teman yang bisa memasuki kehidupan pribadi saya. saya memilih dengan siapa saja saya ingin berinteraksi, dengan siapa saja saya ingin bercerita berkeluh kesah dan bercanda, dengan siapa saja saya berani menjadi diri saya seutuhnya tanpa sehelai topeng melekat pada wajah. saya juga memilih pergaulan seperti apa yang ingin saya masuki, hal-hal apa saja yang ingin saya dalami.



namun tak selamanya menjadi seorang pemilih adalah hal baik dan banyak mendapat keuntungan. saya pribadi terkadang menyesal menjadi seorang pemilih tanpa tahu penyebabnya apa, padahal saya merasa cukup bisa beradaptasi di lingkungan dan dengan orang-orang, saya cukup mampu menyambut ramah setiap orang yang ada di lingkungan di mana saya berada (terlepas dari rasa judes/jutek saya ini, ya) dan lain sebagainya.
dan entah ini termasuk hal baik atau bukan, menjadi picky alias pemilih cukup mampu menyelamatkan saya dari potensi pemicu kegelisahan hati. hahaha. maksudnya adalah karena saya pemilih, sifat ini ikut andil dalam memilih laki-laki yang bakal jadi calon pasangan saya. percaya atau tidak, selama masa SMA saya yang nggak cantik-cantik banget ini pernah didekati beberapa teman laki-laki dan intuisi saya berkata bahwa mereka ingin mendekati saya dan berujung menjadikan saya pacar. hahaha. terdengar sangat percaya diri bukan? tapi saya percaya intuisi saya. dan for your information, saya nggak membiarkan laki-laki yang mencoba mendekati saya lebih jauh lagi bila saya nggak benar-benar tertarik. dan sialnya adalah, saya nggak pernah benar-benar tertarik pada mereka. saya akan perlahan menjauh, secara halus memaksa mereka untuk berhenti mendekati saya lebih jauh lagi. sekali nggak, ya tetap nggak! :)) oleh karenanya kekasih saya yang sekarang ini pernah berkata bahwa saya memilih dia untuk berusaha mendekati saya sebelum kami resmi menjalin hubungan, istilahnya saya memberikan kesempatan padanya untuk mendekati saya. kalau saya nggak kasih kesempatan, tandanya saya nggak tertarik. saya nggak mau membuang waktu untuk hal-hal yang menarik bagi saya. hehe



tak hanya dalam social life, saya termasuk pemilih terhadap segala hal; saya pemilih terhadap makanan, pemilih terhadap orang-orang,dll. intinya yaa saya pemilih banget gitu. 



jadi, apakah kamu yang saya pilih menjadi teman berbagi cerita saya di blog ini? :))




hehehe.







(nrlhdyn — 25/03/2019 09:31PM)
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
hari ini adalah hari dimana saya nggak minum obat. nggak senang atau sedih. biasa aja. malah saya cukup kebingungan. kurang lebih 2 bulan yang lalu saya menjalani rutinitas minum obat setiap hari yang alhamdulillah tiada putus. kemudian mulai hari ini dokter memberi saya obat lainnya yang nggak mengharuskan diminum setiap hari. obat kali ini hanya diminum hari senin, rabu, dan jum'at. sisanya? saya bebas, dengan catatan tetap mengkonsumsi vitamin-vitamin setiap hari yang diresepkan dokter. oh ya, dokter pun memutuskan saya untuk datang satu bulan sekali saja mulai saat ini (biasanya saya datang cek kesehatan 2 minggu sekali). senang? nggak juga sih. agak lega aja. finally, nggak capek harus terus menerus izin kerja selama 4 jam setiap 2 minggu sekali.




kabar kurang baiknya adalah masalah keuangan. hahaha. saya nggak tau besok makan apaan sebab uang yang ada hanya tersisa beberapa lembar uang ribuan rupiah lagi. tapi nggak apa-apa, ini namanya siklus kehidupan. saya nggak mau terlalu khawatir akan persoalan rezeki (in fact tetep aja khawatir dagdigdug setiap kali dompet sedang krisis seperti saat ini), saya berusaha selalu percaya bahwa rezeki sudah tuhan yang atur. saya mungkin hanya tinggal berjalan, berusaha sebaik mungkin. beberapa strategi penghematan pun sudah mulai berjalan. hmmm... strategi penghematan seperti apa lagi ya?




baiklah.. tulisan ini saya buat hanya untuk sekedar melepas lelah dan kembali belajar menangkap kata-kata dalam kepala dan mengubahnya dalam bentuk tulisan seperti ini. ya, saya kembali harus belajar menangkap kata untuk menulis karena sudah agak lama saya nggak menangkapnya. hehehe.



bye!









(nrlhdyn — 12/02/2019 08:59PM)
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
february 5, 2019


hai. tak terasa sudah bulan kedua di tahun 2019. bulan lalu belum benar-benar menyempatkan diri menulis lagi karena satu dan lain hal. sebenarnya sejak beberapa hari kemarin banyak sekali kata-kata berterbangan dalam kepala, tapi nyatanya kepala benar-benar tak mampu menjabarkannya ke dalam kalimat yang apik. huh. tulisan awal bulan februari ini akan berkontenkan "Jurnal". ya, sesuai judul saja yang bisa kalian baca. hahaha. saya memutuskan menulis kembali konten tersebut untuk kembali bercerita tentang kehidupan saya sehari-hari dan hal apa saja yang telah saya lalui.


entah sudah kali berapa kontrol ke dokter dan diberi obat untuk paru-paru saya ini. namun anehnya sudah seminggu kebelakang, tak jarang dada terasa nyeri. apalagi untuk menarik napas panjang, cukup membuat meringis. padahal, aktifitas saya selalu seperti biasa, pun saya tidak merasa kelelahan yang keterlaluan. mood cukup bagus dan stabil meski tetap saja mood swings bikin pusing. entahlah.


intinya, hari ini saya sedang merasa tidak enak. khusus hari ini, hampir seharian penuh merasa tak nyaman karena dada yang nyeri. :(


sampai ketemu di tulisan lainnya.







(nrlhdyn — 05/02/2019 10:06 PM)
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
January 3rd, 2019


kelahiran, jodoh, dan kematian adalah tiga hal yang masih menjadi misteri. kita tak bisa memilih kapan kita dilahirkan atau dari keluarga mana kita berasal. kita tak bisa memaksakan seseorang menjadi jodoh kita bila memang Tuhan tak menggariskan demikian, pun kita tak tahu siapa jodoh kita sebenarnya yang telah Tuhan siapkan atau kapan dan di mana akan bertemu jodoh. kemudian kematian adalah hal yang paling pasti dalam hidup setiap makhluk yang bernyawa, pun tak tahu kapan kematian akan menjemput kita. semua adalah rahasiaNya, dan akan selalu menjadi rahasiaNya.




—



hari ketiga di tahun 2019. kabar duka datang secara tiba-tiba di saat riuh kembang api dan segala euforia perayaan pergantian tahun masih terngiang dalam kepala. terkadang aku bertanya padaNya, untuk apa semua peristiwa yang ada di depan mataku dan kurasakan dua bulan belakangan ini? apa maksudNya? apa tujuanNya? jawaban tak kunjung kudapatkan.


hari kedua di tahun 2019 selepas petang seorang rekan kerja mengabarkan kabar duka—kabar kematian—yang menimpa rekan kerja kami yang lain. rasanya menakutkan memang bila kita membayangkan kematian. membayangkan hal-hal perihal kematian; saat diambil nyawa, saat tubuh tak bernyawa dimandikan, saat orang-orang mendoakan, saat orang-orang membawa jasad ke tempat pemakaman kemudian meletakkannya ke dalam liang lahat, saat tanah-tanah mulai menimbun dan orang-orang mulai meninggalkan jasad yang terkubur itu sendirian.


hari ini aku menyaksikan sebuah acara pemakaman seorang rekan kerja senior yang pernah bekerja sama denganku beberapa kali. hubungan kami memang tak terlalu dekat, namun kami memiliki hubungan baik. beliau tak pernah menjadi sosok yang menyebalkan di mataku, beliau hanya menjadi dirinya sendiri dan itu sama sekali bukan masalah untukku. istrinya tak kuasa menahan kesedihan ketika menyaksikan jasad suaminya mulai terkubur dalam tanah. raut wajahnya dikelilingi awan mendung, yang mungkin tak akan ada pelangi setelahnya.


i've been wondering what if i were her.


akan sangat amat menyakitkan ketika seseorang yang menjadi teman seumur hidup kita, seseorang yang telah menjadi belahan jiwa, berpuluh-puluh tahun bersama mengarungi kehidupan dalam suka dan duka, membangun semuanya dari nol hingga mencapai titik dimana harta benda bukanlah hal yang paling berarti di dunia ini; pergi meninggalkan dan tak akan pernah bertemu lagi. serindu apapun hati ini, tak akan bisa terlampiaskan dengan bertemu dengannya. 


bagaimana bila hal tersebut terjadi padaku? i have no idea just to imagine that.




—




menyaksikan kematian adalah sejujur-jujurnya pengingat bahwa semua manusia akan berpulang padaNya. sebuah pengingat bahwa harta benda tak akan dibawa ketika kita berpulang nanti, bahwa tak ada seorang manusia pun yang memiliki kuasa dalam mencegah kematian. suka atau tidak suka, kematian kelak akan menjemput setiap dari kita satu per satu. sebuah pengingat bahwa ketika manusia berpulang padaNya, hanya kebaikan-kebaikan dalam dirinya lah yang akan terbawa, mengiringi setiap langkahnya sampai bertemu sang pencipta. 




semoga tenang di alam sana, rekan sekaligus guruku.







(nrlhdyn — 03/01/2019)
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
it's december 26th, 2018



hai. apa kabar, kalian? kemarin adalah genap hari ke delapan masa penyembuhan. setiap hari minum obat. tak ada hari tanpa obat-obatan. rasanya saya belum pernah makan obat-obatan sebanyak itu dalam satu hari seumur hidup. hal ini bukanlah hal buruk, malah saya masih semangat untuk minum obat untuk kesembuhan. obat-obatan yang saya minum tak terasa pahit, justru obat-obatan tersebut bersifat asam. walau tak terasa pahit tapi tetap saja namanya obat; benda padat kecil biasanya seukuran biji jagung yang mengandung zat-zat kimia yang rasanya tidaklah enak.


ya, alhamdulillah saya masih semangat minum obat meski setiap pagi harus terbangun dengan nyeri pada jempol tangan kanan dan kiri gara-gara menekan, mematahkan, dan menghancurkan obat menggunakan sendok. sepertinya lumpang-alu adalah alat yang tepat untuk mengurangi rasa sakit pada jempol ini. setiap hari lidah harus bersinggungan dengan obat-obatan yang bersifat asam itu. sebenarnya bagian tersulit dari keteraturan minum obat ini bukan hanya sebatas menghancurkan obat-obatan, namun kedisiplinan waktu. ya, disiplin. kebetulan saya bukan tergolong manusia yang ekstra disiplin dalam segala hal. singkatnya, hal-hal sederhana dalam hidup saya sangatlah tak teratur seperti pola makan, pola tidur, serta pola saya beristirahat.


saya sering melewatkan waktu sarapan atau bisa dikatakan tak pernah sarapan seperti banyakan orang. memangnya pagi-pagi tak merasa lapar? ah tentu saja saya merasa lapar, cacing-cacing dalam perut berteriak kencang sekali. tapi sekali lagi, saya tak menghiraukannya dan memilih melanjutkan apa yang sedang saya kerjakan. oh ya, for your information, perut saya sangat rewel bila di isi makanan-makanan berat saat pagi hari. bahkan bubur pun, perut menolak. jadi bila saya pagi-pagi sudah sarapan (misal pukul 6 atau 7), pastilah satu atau paling lama dua jam kemudian perut ini berontak melilit menggeret saya ke toilet. super sekali, bukan? oleh sebab itu, waktu sarapan saya adalah antara pukul 08.30 sampai dengan pukul 10.00 pagi. jam 'kantor'-nya baru siap jam segitu. tapi perut ini ga pernah keberatan makan malam pukul 12 malam atau bahkan jam 2 pagi, justru dia sangat welcome. aneh, bukan?


lah malah bahas soal perut?! hahaha. tak apa kan yaa untuk intermezo. :D


kembali lagi ke masalah masa recovery kesehatan. terkadang saya suka berpikir, kewajiban minum obat setiap hari ini menuntut saya untuk disiplin. contohnya saya wajib makan dan minum obat di waktu yang tepat dan sama setiap harinya. sampai-sampai saya berinisiatif memasang pengingat di google assistant untuk mengingatkan saya minum obat teratur sesuai jam yang sudah saya tentukan. super sekali, bukan? haha.


seolah Tuhan sedang menyuruh saya untuk hidup disiplin waktu untuk memperbaiki pola makan yang berantakan ini. mungkin pola makan dan istirahat yang berantakan ditambah kurangnya piknik (HAHAHA iya saya sangat kurang piknik tahun ini) membuat alam bawah sadar saya stres hingga mempengaruhi kondisi fisik. yaaa mungkin saja teori sok tahu saya ini benar. haha.


hal yang paling saya syukuri dari masa recovery yang baru delapan hari ini adalah mood saya relatif stabil dan saya tendang sekeras mungkin agar hal-hal negatif yang mencoba menyelinap masuk ke dalam kepala gagal dalam usahanya. yaa intinya saya tidak mengalami stres. haha. saya pun masih belum bosan minum obat, masih relatif semangat dan mudah-mudahan selalu semangat terus. masih ada waktu beberapa bulan lagi saya harus fight penyakit ini. saya berharap organ tubuh ini selalu kuat dan semakin kuat setiap harinya, terutama lambung dan ginjal serta jantung, demi kesembuhan paru-paru yang sedang merana ini. semoga obat-obatan yang saya konsumsi setiap hari pun tak menimbulkan efek samping yang fatal alias membahayakan.


support saya terus, ya? perjalanan saya masih panjang untuk menuju kesembuhan, waktu saya masih sangat panjang untuk fight bakteri serta virus yang menyerang tubuh ini. mudah-mudahan saya selalu salam keadaan sehat dan happy untuk bantu saya fight penyakit ini. hihi. wish me luck!!







—







(nrlhdyn — 26/12/2018 03:45 PM)
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
19 Desember 2018



semoga di setiap doa yang dipanjatkan dalam setiap sujud yang berbisik ke bumi mampu didengar Tuhan sampai ke langit, dan di sana setiap doa dan pengharapan digantungkan. percayalah, Tuhan akan siap menurunkan banyak doa dan pengharapan tersebut di waktu yang tepat. yang perlu dilakukan cukup bersabar dan percaya. hanya itu.



—



sore tadi ketika saya sedang santai scrolling beranda instagram, muncullah sebuah postingan dari akun yang sudah sejak lama saya follow; akun @.haditsapp. akun tersebut memang berisikan konten islami yang bertujuan untuk mengedukasi muslim/muslimah yang belum tahu perihal hadits-hadits. kalau saya sih mem-follow akun tersebut bertujuan untuk menambah pengetahuan tentang hadits sekaligus pengingat saya sebagai manusia lemah nan tak berdaya upaya di muka bumi ini. 


postingan foto dan caption dari akun instagram tersebut sore tadi cukup membuat saya teringat akan perkataan orang-orang yang memang sudah sejak lama saya tahu; katanya, sakit adalah penggugur dosa. saya sendiri bertanya-tanya, apakah benar bila seseorang sedang tertimpa musibah—sakit—lantas hal tersebut merupakan cara Tuhan menghapus dosa-dosa orang tersebut?
ternyata, benar. hal itu benar adanya, ada sebuah hadits yang membenarkan hal tersebut. akun @.haditsapp mem-posting sebuah foto yang bertuliskan seperti di bawah ini :


(source: http://instagram.com/haditsapp)


saya sendiri menjadi berpikir sejenak, berkaca pada diri sendiri pada apa yang sedang saya alami. Tuhan sedang memberi saya sebuah musibah—sakit—yang akhirnya saya mampu berdamai dengan diri sendiri, menganggapnya sebagai sebuah ujian untuk naik level di mataNya, untuk menguji seberapa besar keimanan dan kesabaran yang saya punya sekaligus menguji mental. dan saya seperti diingatkan kembali bahwasanya sakit adalah penggugur dosa, itu yang dikatakan dalam hadits. apakah Tuhan sedang menggugurkan dosa serta kesalahan saya yang banyak sekali itu? apakah sakit yang saat ini saya alami merupakan cara Tuhan untuk menebus segala dosa dan kesalahan yang saya lakukan padaNya? apakah benar? saya tak tahu. namun yang pasti, ada sebuah hadits berkata demikian sehingga saya memutuskan untuk berpikiran positif bahwa memang hal tersebut merupakan suatu kebenaran. 


dan bila hal tersebut benar, saya ingin tubuh ini cukup kuat untuk menerima 'siksaan' berupa obat-obatan yang sudah mulai saya konsumsi dalam treatment penyembuhan penyakit ini. saya sangat amat membutuhkan ginjal ini kuat, lambung ini kuat, jantung ini kuat, dan tubuh saya secara keseluruhan yang benar-benar kuat dan siap. dan yang tak kalah penting adalah hati dan mental yang kuat serta keimanan yang semoga setiap hari semakin meningkat. ya, mungkin Tuhan ingin saya memiliki keimanan yang kuat daripada sebelumnya. Tuhan menyayangi saya, amat menyayangi saya. Dia membutuhkan saya yang kuat dan beriman padaNya.


bila musibah ini merupakan kehendakNya agar dosa serta kesalahan saya terhapuskan, insha Allah saya akan berusaha ikhlas seikhlas ikhlasnya meski jujur saja banyak sekali kerikil-kerikil lain yang bermunculan yang tak jarang mengganggu keyakinan. insha Allah saya ikhlas menjalaninya.




—



(nrlhdyn — 19/12/2018 09:47 PM)
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
12 Desember 2018



should i be braver next time? to speak what's on my mind and everything i believe in?



—



kegiatan sehari-hari belakangan ini tampak menjemukkan. minggu ini adalah minggu terakhir efektif masuk kantor kemudian dua minggu ke depan termasuk ke dalam minggu yang lengang kegiatan kantor. mudah-mudahan sih begitu, ya. harus banget kayaknya menyiapkan 'amunisi' untuk menghadapi dua minggu yang lengang nanti. hihi. sombong sekali.. (*amunisi = buku bacaan)


malam ini adalah malam yang cukup mengejutkan. malam ini, aku beradu argumen dengan ibu mengenai suatu hal yang kurasa tak perlu terlalu diperdebatkan. aku sendiri masih merasa terkejut atas keberanian mulut lancangku menyuarakan apa yang menjadi pemikiranku, hal-hal apa yang kuyakini, menjelaskan bagaimana diriku sebenarnya, dan apa saja yang kuinginkan untuk saat ini demi menunjang kesehatanku. mungkin baginya hal-hal tersebut tak terlalu penting. mungkin baginya aku hanyalah bocah yang belum mengenal asam-garam dunia yang fana dan penuh intrik ini. atau mungkin, ia perpikir bahwa aku hanyalah bocah sok pintar dengan pendidikan yang pas-pasan. entahlah.


ketika kami memiliki pendapat yang berbeda, sebenarnya aku tak mau ambil pusing mempermasalahkannya dengan cara berdebat atau lainnya. tapi, hal yang dibicarakan malam ini intinya adalah perihal penyebab mengapa aku bisa terjangkit penyakit ini yang sedang kuderita, yang mana sebenarnya aku sudah tak mau mencari-cari alasannya sebab aku hanya ingin fokus pada proses penyembuhannya sampai penyakit ini benar-benar hilang dan aku sembuh total. hanya itu.
penyebabnya aku sudah tahu. aku tak ingin mengait-ngaitkannya dengan hal lain. namun ia bersikukuh bahwa ada hal-hal lain di luar nalar yang menjadi penyebabnya. aku tak peduli. aku tak mempercayai itu. 


beliau terus saja bicara A sampai Z mengenai penyebab di luar nalar itu. tentu saja aku muak, sebab sadar tak sadar kalimat-kalimatnya bisa menjadi racun untuk batinku, untuk alam bawah sadarku. hingga akhirnya aku angkat bicara.


aku angkat bicara bahwa aku sudah tak lagi memikirkan penyebab dari sebuah musibah ini, aku ingin fokus pada kesehatan, aku memintanya untuk berhenti bicara di luar nalar beserta kemungkinan-kemungkinannya, aku menjelaskan bagaimana diriku mengatasi segala hal negatif, menyelesaikan permasalahan, menjelaskan bagaimana aku memiliki mood swings yang sangat mengganggu tapi tak dapat kuhilangkan, bagaimana alam bawah sadarku bekerja merekam perkataan dan perilaku yang pernah kuterima—sebagian ada yang menjadi inspirasi sekaligus motivasi untukku, namun sebagian lain ada yang menjadi racun untuk diriku sendiri.


aku hanya tak ingin mendengar hal-hal negatif, sebab disadari atau tidak, hal tersebut akan bercokol dalam kepalaku kemudian merusak semua hal-hal positif yang susah payah kupertahankan. berharap saja orang-orang akan mengerti dan tak lagi menggangguku dengan hal-hal negatif. 


selama beberapa tahun sejak aku sudah mengerti banyak hal dalam hidup, aku tak memiliki keberanian lebih untuk menyuarakan 'suaraku' padanya, terlebih bila 'suaraku' bernilai kontra dengan pendapat/prinsip yang orang lain anut.
alasannya sederhana; aku takut 'suaraku' menyakiti perasaannya, melukai hatinya, terlebih mungkin sikap yang kutunjukkan saat mengungkapkan pendapatku sangatlah tidak akan enak. baru kali ini kukeluarkan 'suaraku', mengukapkan apa yang sebenarnya aku pikir dan rasakan. 


menjelaskan pada orang lain tentang kisah hidupmu dan segala perasaan serta pilihan-pilihan yang kamu rasakan dan kamu ambil adalah hal yang benar-benar sangat melelahkan, terlebih bila mereka memiliki prinsip, cara berpikir, atau karakter yang berbeda denganmu. disadari atau tidak, kamu akan dihakimi bukan dipahami, kamu akan dianggap terlalu berlebihan bukan dianggap sebagai suatu kewajaran, kamu akan dianggap 'berbeda' hingga mereka perlahan-lahan akan membentangkan jarak tak kasat mata.


perlahan-lahan aku akan mencoba berani menjadi diriku seutuhnya di tengah kerumitan karakter yang tengah kualami. i won't lose myself. maybe i just need to be brave enough to be 'me' in better way. should i?



—





(nrlhdyn — 12/12/2018 10:25PM)
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
10 Desember 2018


thank you for give me one of those weapon to heal the pain!



—



minggu kemarin, aku berkunjung ke salah satu toko serba ada yang menjual pernak-pernik aksesoris—Mini So—yang sedang ramai digandrungi anak muda bersama kekasih. di bagian perlengkapan alat tulis, ada sebuah notebook atau buku catatan yang menarik perhatianku. bentuknya unik berwarna coklat muda dan ada tali pengikat bukunya, mirip-mirip notebook di serial tv barat. refleks, mataku melirik harganya. 70 ribu sekian rupiah, kalau tidak salah. mahal sekali. haha. kupikir notebook seharga itu sangat sayang kalau hanya dipakai untuk coretan-coretan kasar. akhirnya kutinggalkan bagian perlengkapan tulis itu dengan sedih.



—



senang tak terkira dan tak menyangka. hari ini diberi bingkisan oleh siswa/siswi sekolah tempatku bekerja dalam rangka peringatan hari guru nasional. sebenarnya hari guru nasional sudah lewat satu minggu yang lalu, tapi mereka baru mendapat izin untuk merayakannya di minggu ini (disebabkan minggu lalu mereka sedang ujian semester). dan seperti biasa bila hari guru tiba, para siswa memberi ucapan serta hadiah-hadiah menarik untuk guru-guru tercinta di sekolah—tentunya hal tersebut telah dikoordinasikan dengan pihak OSIS dan bagian kesiswaan yang berwenang. klise, namun hari tersebut menjadi pengingat bahwa peradaban manusia cerdas berilmu dan berakhlak sebenarnya berawal dari seorang guru. hehehe.


sebenarnya hadiah hari guru tahun ini terbilang biasa. orang lain pun mungkin menganggapnya begitu. namun, buatku hadiah hari guru tahun ini terasa istimewa. sebuah notebook berwarna coklat dihiasi pita berwarna senada serta satu buah pulpen, lengkap dengan kartu ucapan—plus kutipan menarik tentang guru—selamat hari guru tahun 2018. biasa sekali, bukan?


sebenarnya hadiah yang biasa. buatku, hadiah tersebut semacam salah satu senjataku untuk sembuh dan sebuah alat untuk bernostalgia ke masa sekolah dasar di mana aku suka menulis cerita di buku tulis dan menulis puisi serta cerita sehari-hari di buku harian atau notebook khusus. hadiah tersebut semacam mengajakku kembali benar-benar menulis menggunakan tangan. tak peduli berapa lembar yang dihasilkan dan kualitas tulisannya yang seperti apa; bila ada hal yang ingin diceritakan, ya tulis saja. itu intinya.


dan hari ini aku telah menuliskan sesuatu di sana. satu lembar tulisan. aku sendiri berencana akan mengisi notebook tersebut dengan hal sehari-hari yang ada di kepalaku, bukan semacam buku diary. melainkan lebih kepada tulisan-tulisan yang ada di kepala yang siapa tahu bisa menjadi ide untuk menulis panjang lebar di blog ini, kan? hihi. intinya, di sana akan ada lebih dari sekedar diary. akan ada pembelajaran hidup yang tertulis di sana dan akan ada perasaan-perasaan yang tak tertulis di blog ini atau yang tak orang tahu.


perlu dicatat, mungkin Tuhan mengabulkan keinginanku dalam hati yang berhasrat memiliki sebuah buku catatan sederhana berbentuk unik berwarna coklat, mirip-mirip notebook yang dijual di Mini So.


hahaha.




(nrlhdyn — 10/12/2018 08:07 PM)
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
1 Desember 2018


alhamdulillah.. Ya Allah, thank you for giving me strength and faith.



—



hari pertama di bulan desember tahun 2018. hari sabtu. biasanya orang-orang pergi refreshing untuk hilangkan penat, entah bermain ke mall atau taman kota atau berenang. tak terkecuali aku. aku biasanya menghabiskan akhir pekan tentu saja dengan kekasih, entah kami pergi ke tempat makan atau mall, nonton bioskop, atau hanya sekedar di rumah saja berbincang-bincang. tak banyak memang yang bisa kami lakukan. namun, kami coba menikmatinya.


namun tidak hari ini...


hari ini aku benar-benar sedang 'kosong'. tak ada jadwal atau rencana kemana pun. oh ralat, ada satu rencana yang akan kulakukan sendirian akhir pekan ini; pergi ke laboratorium kesehatan kemudian mengunjungi dokter untuk memeriksa hasil laboratoriun. ya, ini tentang penyakit yang kuderita. aku akan melakukan hal-hal tersebut sendirian. 

jujur saja, awalnya aku takut. sejak kemarin saat tahu kalau kekasih tak bisa menemani, aku cukup kebingungan. bingung karena tak tahu siapa yang bisa menemani, bingung karena aku belum pengalaman apapun tentang hal semacam ini, dan bingung memutuskan apakah sabtu ini aku nekat pergi sendirian melakukan hal-hal itu.

akhirnya kemarin malam aku bertekad untuk menghadapinya sendirian. penyakit yang kuderita adalah hasil kebodohanku sendiri dan yang akan merasa nelangsa tersiksa karena ini tentu saja aku sendiri. oleh karenanya, aku nekat untuk menghadapi hal remeh—mengambil hasil cek laboratorium kemudian kunjungan dokter—ini sendirian. sejak kemarin aku benar-benar menanamkan dalam kepala bahwa aku adalah perempuan yang dibesarkan untuk mandiri, untuk tak bergantung pada orang lain, untuk mampu berdiri atau bahkan berlari di atas kaki sendiri. 




—



sepanjang perjalanan menuju laboratorium kesehatan, pikiran liarku kembali beraksi. kali ini merupakan aksi yang cukup positif, yakni memantrai atau mensugesti diri sendiri dengan kalimat-kalimat yang positif yang mampu mengubah sugesti atau stigma yang hatiku rasakan. 

aku bekata bahwa sore hari ini selepas hujan, aku berniat menyelesaikan urusanku sendiri. tak apa tak ada yang mendampingi. aku harus kuat apapun hasilnya kelak. aku harus sabar dan tabah. lagipula aku tak benar-benar sendirian, Allah menemaniku pergi ke laboratorium dan akan menemaniku melakukan kunjungan ke dokter. Allah memberiku kekuatan lebih untuk menjadi lebih kuat apapun hasilnya. Allah menjagaku meski aku tak melihatNya. Dia ada.

mulutku sibuk komat kamit melafal doa sepanjang perjalanan di atas motor driver ojek online. memantrai diriku sendiri bahwa Allah menemani. mengucap doa memohon agar Dia menemaniku dan menguatkan raga, hati serta mentalku untuk menerima apapun yang hidup beri padaku.

langkahku ringan sekali menuju laboratorim untuk pengambilan hasil test. seorang customer service mempersilahkanku menunggunya untuk mengambil hasil test lab. sebuah amplop besar berwarna putih serta sebuah amplop kecil berwarna senada dengan lambang dan keterangan nama kantor laboratorium kesehatan swasta tempatku memeriksakan kesehatanku.

di sela-sela makan siang sembari menunggu jam praktak dokter, aku penasaran dan membuka amplop kecil. oh ya, amplop kecil ukuran standar ini sebenarnya adalah hasil tes darah yang kulakukan kemarin. kulihat banyak sekali kata-kata yang tak kupahami selain trombosit dan leukosit juga angka-angka yang tak benar-benar kupahami. namun, kulihat hasil leukositku cukup tinggi (diatas rata-rata angka normal). 



—



rupanya hari ini bukanlah hari keberuntunganku. dokter yang menanganiku rupanya berhalangan praktek hari ini di klinik. aku ditangani oleh seorang dokter perempuan. dokter ini tak terlalu menjelaskan dengan pasti begitu kutunjukkan hasil test lab. ia hanya berkata bahwa cek darahku bagus dan hasil rontgen sendiri menunjukkan bahwa aku positif mengidap penyakit itu. ketika ia mengatakannya, aku benar-benar merasa siap mendengarnya. tak ada rasa sedih, tak ada rasa gentar atau lemah. rasanya responku pun terlihat cukup siap. ya, saat itu aku merasa Allah mendampingiku dan memberiku kekuatan untuk menghadapi ini hingga ia hilangkan rasa sedihku. terkejut? tentu saja aku terkejut. tapi aku merasa siap, kepalaku sudah berprasangka bahwa ini adalah hasil yang kuterima. positif.

hanya saja aku bingung, kemana aku harus melangkah setelah ini? aku benar-benar tak memiliki petunjuk tentang langkah berikutnya. dokter perempuan itu pun tak banyak membantu saat kutanya berbagai hal perihal tindak lanjut dari penyakitku ini. pikirku, aku harus sembuh dan menindaklanjuti hal serius ini.

entah apa yang ada dalam kepalaku, setelah kunjungan dokter aku malah ingin beli sebuah buku. ya, buku. dengan membaca mungkin bisa sedikit mengalihkan perhatianku. dan mungkin saja mengubah sudut pandangku sebagai manusia. entahlah.. Tuhan Tidak Pernah Tidur karya Reginna Brett adalah buku yang kubawa pulang dari toko buku. dan perasaanku membaik meski masih diselimuti kebingungan.




—




hari ini ingin mengucap syukur. Allah benar-benar menemaniku, tak membuatku merasa sendiri, dan memberi asupan kekuatan yang luar biasa. Alhamdulillah... 





(nrlhdyn — 01/12/2018 10:34PM)
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
24 November 2018

tak ada bandung hari ini. hanya hujan turun secara sembunyi-sembunyi. dan aku rindu menyapamu dalam mimpi. bandungku.



—


bukan salah satu hari yang buruk, juga bukan pula salah satu hari paling menyenangkan. ah, semuanya biasa saja. pertikaian kecil yang berakhir dengan pelukan panjang. juga keheningan yang pecah menjadi keramaian. semuanya sama.

hujan pukul 9 malam tadi yang mengubahnya menjadi tak biasa. mendadak merindukan bandung dan isinya. bandung dengan segala makanan berat dan makanan ringan khasnya. bandung dengan segala keramah tamahan warga lokalnya. bandung dengan segala hiruk pikuk jalanan kotanya. bandung dengan segala cinta dan kenangannya. hey, aku rindu!!

beberapa kali dalam beberapa bulan terakhir aku kerap bersedih tak dapat berkunjung ke sana. seperti biasa, hidup mengharuskanku memilih. dan hidup memaksaku merelakan pertemuan dengan kota paris van java itu. hidup memaksaku manut akan kewajiban-kewajibanku sebagai seorang anak yang patuh pada orang tua.

terkadang aku lelah harus merelakan lagi dan lagi keinginanku. paling tidak, aku bisa bahagia beberapa hari di kota kembang itu. tak ada kewajiban-kewajiban melelahkan atau segala tuntutan yang membuat sakit kepala. tapi, aku bisa apa? tak banyak yang bisa kulakukan selain berdoa dan berharap, meski harapan terkadang justru membunuh diri sendiri, tak apa, aku telah terbiasa akan harapan-harapan yang kubuat dan kuterima.

hujan sabtu malam ini mengingatkanku pada kisah kita di bandung. tentu saja aku rindu berlarian di jalan braga sampai balai kota. tentu saja aku rindu duduk-duduk dan mendengarkan musik di depan sebuah bar & lounge bergaya barat di jalan braga. tentu saja aku rindu pada hujan di kota bandung pada malam pergantian tahun ke 2016. tentu aku rindu pada nasi goreng khas brebes yang biasa kita makan tengah malam selepas bekerja. dan.. aku rindu pada dekapan yang selalu menghangatkan dibalik selimut usang saat malam berteman dengan hujan.

banyak sekali.

hai. selamat tanggal 24 dari kota cirebon, bandungku. entah 24 yang ke berapa. semoga kita selalu menjadi apa yang kita semogakan dan Tuhan mengabulkan. aamiin.





—




nrlhdyn.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

About me

seorang perempuan yang memiliki kepala yang ramai, telinga yang bising, dan hati yang penuh tanda tanya.

Social Media

  • tumblr
  • facebook
  • twitter
  • instagram

Blog Archive

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates